KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Yen merosot ke level terburuk, yang belum pernah terlihat sejak 1986 pada hari Selasa, memicu kekhawatiran bahwa intervensi langsung dari pemerintah akan segera terjadi. Sementara, dolar Amerika Serikat (AS) mundur dari level tertinggi 13 bulan menjelang data pekerjaan yang dapat memengaruhi prospek suku bunga AS. Selasa (30/6/2026) pukul 10.30 WIB, yen melemah menjadi 162,41 per dolar AS untuk pertama kalinya dalam 40 tahun. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menegaskan kembali bahwa pemerintah siap untuk merespons dengan tepat kapan saja, dan menahan diri dari retorika yang lebih keras.
Mata uang Jepang diperkirakan akan turun 2% pada kuartal II-2026, penurunan kuartal keempat secara berturut-turut. Ini rentetan penurunan terpanjang sejak 2022, ketika jatuh selama tujuh kuartal berturut-turut, karena kesenjangan suku bunga yang lebar menyeret yen.
Baca Juga: DBS Selesaikan Sekuritisasi Sintetis US$ 1 Miliar, Pertama Bagi Perbankan Singapura "Ini adalah pertanyaan kapan, bukan apakah, Kementerian Keuangan (MOF) akan kembali campur tangan untuk mendukung yen," kata Carol Kong, ahli strategi mata uang di Commonwealth Bank of Australia. "Namun, intervensi apa pun kemungkinan tidak akan membalikkan tren kenaikan USD/JPY secara keseluruhan," kata Kong, yang memperkirakan yen akan mencapai 164 per dolar AS pada awal 2027. Yen telah mengabaikan serangkaian intervensi senilai 11,7 triliun yen atau setara US$ 72,25 miliar dan kenaikan suku bunga dari Bank Sentral Jepang dalam beberapa bulan terakhir karena perang Iran memicu kekhawatiran inflasi dan mengganggu prospek suku bunga global. Para spekulator juga semakin berani, terus membangun kembali posisi short bersih mereka pada yen, dengan data mingguan terbaru dari regulator AS menunjukkan posisi short sebesar US$ 11,3 miliar, mendekati level tertinggi dalam dua tahun. Meskipun intervensi pada akhir April dan awal Mei memperkuat yen untuk periode singkat, yen kembali berada di bawah tekanan karena para pedagang mulai memperhitungkan kenaikan suku bunga dari Federal Reserve AS di akhir tahun ini. Hal itu mempertajam fokus pada laporan pekerjaan AS untuk bulan Juni yang akan dirilis Kamis lalu — karena tiga bulan berturut-turut pertumbuhan lapangan kerja yang lebih kuat dari perkiraan telah mendukung pergeseran kebijakan Fed yang lebih ketat. Para investor memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 63% pada bulan September. "(Kementerian Keuangan Jepang) akan melakukan intervensi jika mereka mampu, tetapi mereka tidak bisa, karena mereka tahu saat ini mereka sedang melawan arus kebijakan Fed yang ketat," kata Matt Simpson, analis pasar senior di StoneX.
Baca Juga: Peritel AS Percepat Pemesanan dari China, Amankan Stok untuk Musim Liburan "Jika data AS memberikan kejutan yang menguntungkan bagi para pendukung kebijakan The Fed yang lebih longgar minggu ini, Kementerian Keuangan dapat bertindak dengan momentum dolar yang lebih lemah di pihak mereka," katanya. "Sampai saat itu, kemungkinan besar itu hanya omong kosong." Indeks dolar, yang mengukur nilai mata uang AS terhadap enam mata uang lainnya, berhasil memulihkan sebagian kerugian semalam dan berada di angka 101,28, siap untuk kenaikan 1,4% pada kuartal ini setelah naik 1,6% dalam tiga bulan pertama tahun 2026. Investor telah meningkatkan taruhan pada penguatan dolar yang berkelanjutan dengan laju tercepat dalam sejarah untuk paruh pertama tahun ini, data menunjukkan, yang membayangi mata uang lainnya. Euro turun 0,18% menjadi US$ 1,1403, tidak jauh dari titik terendah satu tahun yang dicapai pekan lalu. Dolar Australia turun 0,27% menyentuh titik terendah tiga bulan di US$ 0,6867 sementara dolar Selandia Baru berada di US$ 0,5644. Sterling melemah 0,17% menjadi US$ 1,3237 karena investor mempertimbangkan komentar dari Andy Burnham, calon perdana menteri Inggris berikutnya, yang mengindikasikan bahwa ia akan berkomitmen pada serangkaian aturan fiskal yang dipantau oleh pasar keuangan. "Pertanyaannya bukan lagi apakah dolar dapat mempertahankan posisinya, tetapi apa arti kekuatan dolar bagi aset berisiko," kata para ahli strategi di BlackRock Investment Institute dalam sebuah catatan.
Baca Juga: Harga Emas Terjun Bebas: Dampak Kekhawatiran Inflasi dan Kenaikan Suku Bunga Mereka memperingatkan bahwa level dolar saat ini secara umum sejalan dengan fundamental yang mendasarinya, sehingga siklus apresiasi berkelanjutan menjadi kurang mungkin terjadi. "Kami pikir beberapa penyesuaian harga yang agresif dalam ekspektasi suku bunga mungkin berlebihan," tulis mereka. Investor juga mencerna putusan Mahkamah Agung yang memblokir Presiden Donald Trump untuk memecat Gubernur Fed Lisa Cook, yang meredakan beberapa kekhawatiran tentang independensi Fed. Sementara itu, tim negosiasi Iran dan AS dijadwalkan tiba di Doha minggu ini, tetapi Iran mengatakan tidak ada pertemuan yang dijadwalkan karena tembakan rudal akhir pekan dari kedua belah pihak menguji gencatan senjata sementara untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama empat bulan, sehingga sentimen menjadi rapuh.