Yield Di Atas Bunga Deposito, Hari Ini (24/4) Cum Dividen Date Saham Blue Chip di BEI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kesempatan terakhir untuk mendapatkan hak pembayaran dividen bernilai jumbo dari salah satu saham blue chip di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dividen saham blue chip ini mencapai Rp 1.096 per saham. Hari ini, pembayaran dividen saham tersebut memasuki cum date.

Cum dividen date adalah periode akhir suatu saham memiliki hak dividen. Investor yang ingin mendapatkan hak dividen harus membeli saham tersebut paling lambat saat cum date dan menyimpannya hingga tanggal pencatatan atau recording date. 

Saham blue chip adalah saham lapis satu yang telah berpengalaman di pasar modal dan memiliki nilai kapitalisasi pasar serta nilai likuiditas yang tinggi. Di BEI, saham blue chip biasanya berasal dari saham di indeks mayor seperti LQ45.


Baca Juga: Pasti! Saham Blue Chip Bank Ini Akan Bayar Dividen Tiap 3 Bulan, Rasio Dividen Naik

Anggota LQ45 yang cum dividen date hari ini adalah  PT United Tractors Tbk (UNTR). UNTR memutuskan untuk membagikan dividen tunai sebesar Rp 1.663 per saham atau sebanyak-banyaknya Rp 5,92 triliun dari total laba bersih konsolidasian perusahaan tahun buku 2025 sebesar Rp 14,8 triliun.

Alokasi tersebut sudah termasuk dividen interim sebesar Rp 567 per saham atau seluruhnya berjumlah Rp 2,06 triliun yang telah dibayarkan pada 24 Oktober 2025. Alhasil, sisanya sebesar Rp 1.096 per saham akan dibagikan kepada pemegang saham UNTR sebagai dividen final.

Harga saham UNTR pada perdagangan Kamis 23 April 2026 ditutup di level 32.500 stagnan dibandingkan sehari sebelumnya. Namun harga saham UNTR telah naik 2.400 poin atau 7,97% sejak awal tahun atau secara year to date (ytd).

Dengan harga tersebut, yield dividen saham UNTR sebesar 3,37%. Yield ini lebih besar dibandingkan suku bunga deposito yang hanya 2%-3%.

Tonton: YouTube Blokir Akun Anak di RI Mulai Hari Ini Siapa Kena

Kinerja melemah

Dalam berita sebelumnya, UNTR mencatatkan kinerja operasional yang kurang menggembirakan pada sejumlah lini usaha dalam dua bulan pertama tahun 2026.

Berdasarkan laporan bulanan di situs perusahaan, penjualan alat berat merek Komatsu yang didistribusikan UNTR turun 10,50% year on year (YoY) menjadi 869 unit pada Januari-Februari 2026.

Di segmen kontraktor pertambangan, UNTR melalui PT Pamapersada Nusantara juga mencatatkan penurunan produksi batubara untuk pelanggan sebesar 6,85% YoY menjadi 20,4 juta ton pada Januari-Februari 2026.

Volume overburden removal UNTR juga terkoreksi 7,49% yoy menjadi 156,9 juta bank cubic meter (bcm) pada Januari-Februari 2026.

Melalui PT Tuah Turangga Agung, UNTR juga mengalami penurunan penjualan batubara termal dan metalurgi sebesar 2,81% yoy menjadi 2,77 juta ton pada Januari-Februari 2026.

Di lini bisnis emas, aktivitas penjualan UNTR melalui Agincourt Resources dan Sumbawa Jutaraya belum terlihat signifikan. Hal ini terbukti dengan realisasi volume penjualan emas UNTR yang hanya 2.000 ounce pada Januari-Februari 2026, atau jauh menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yakni 38.000 ounce.

Sebaliknya, volume penjualan bijih nikel UNTR melalui Stargate mencapai 455.000 ton pada Januari-Februari 2026 atau tumbuh 30,37% yoy.

Presiden Direktur United Tractors Iwan Hadiantoro mengatakan, tahun 2026 masih menjadi tahun yang cukup menantang bagi UNTR. Salah satunya terlihat dari persetujuan izin produksi batubara pada Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang sempat terhambat, sehingga mempengaruhi aktivitas kontraktor pertambangan maupun produksi UNTR.

Tonton: Pemerintah Siap Lelang 6 Pembangkit Sampah (PSEL) dari Medan hingga Bekasi

Permintaan alat berat UNTR juga mengalami perlambatan lantaran tak sedikit para pelaku usaha pertambangan yang menunda pembelian ketika RKAB belum disetujui. Belum lagi, UNTR juga menghadapi persaingan yang makin ketat dengan kompetitor merek alat berat asal China.

Walau tidak dirinci, pihak UNTR akan melakukan evaluasi terhadap capaian kinerja awal tahun dan tidak menutup kemungkinan akan merevisi target operasional untuk tahun ini.

Iwan menyatakan, UNTR akan menerapkan strategi yang lebih defensif pada 2026 seiring kondisi makro yang belum stabil. "Kami berusaha semaksimal mungkin untuk memantapkan bisnis-bisnis perusahaan dan pada saat yang sama kami masih didukung oleh balance sheet yang kuat," ujar dia dalam konferensi pers usai RUPST, Kamis (16/4/2026).

Di samping itu, Iwan kembali menegaskan komitmen UNTR untuk tidak lagi bergantung pada satu sektor, melainkan aktif memperkuat portofolio bisnis lintas industri. Hal ini untuk meminimalisir risiko pada sektor-sektor industri seperti pertambangan batubara sekaligus menciptakan pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan.

"Fokus baru kami adalah memperkuat portofolio di sektor pertambangan mineral dan energi," tukas dia.

Tonton: Gencatan Senjata Isrel-Lebanon! Donald Trump Klaim Sudah Damaikan Perang ke 10

Tambang Emas Beroperasi Lagi

UNTR sendiri mendapat angin segar lantaran Agincourt Resources sudah diizinkan kembali mengoperasikan Tambang Emas Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Sebelumnya, Agincourt Resources menjadi salah satu dari 28 perusahaan yang dicabut izin operasionalnya oleh Kementerian Lingkungan Hidup, menyusul bencana di Sumatera pada November 2025.

Iwan menyebut, Tambang Emas Martabe bakal beroperasi lagi pada pertengahan 2026 setelah segala proses persiapannya tuntas. "Targetnya (produksi emas Martabe) sekitar 60.000 ounce untuk tahun ini," imbuh dia.

Masih terkait segmen emas, UNTR mendapat aset baru setelah pada Februari 2026 anak usahanya yaitu PT Danusa Tambang Nusantara (DTN) dan PT Energia Prima Nusantara (EPN) menuntaskan rencana transaksi akuisisi Tambang Emas Doup yang dikelola entitas usaha PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB).

Saat ini, UNTR telah menyiapkan desain teknikal untuk pengembangan Tambang Emas Doup, yang mana tambang tersebut ditargetkan beroperasi 2028 mendatang.

Kendaraan Listrik Jadi Motor Baru Penggerak Industri Otomotif
© 2026 Konten oleh Kontan
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News