KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Biaya pendanaan (
cost of fund) obligasi korporasi masih relatif lebih rendah dibandingkan tahun lalu, meskipun dalam beberapa waktu terakhir mulai menunjukkan tren kenaikan seiring meningkatnya tekanan global. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) terbaru, rata-rata kupon surat utang korporasi tenor tiga tahun tren penurunan yang cukup signifikan pada kuartal I-2026 dibandingkan periode tahun sebelumnya. Bagi emiten dengan peringkat AAA, rata-rata kupon tenor tiga tahun pada kuartal I-2026 kini berada di kisaran 5,5%. Angka ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan puncak kupon pada tahun 2018-2019 yang sempat menyentuh level 8,5% - 9,0%.
Baca Juga: Indeks Dolar Melemah ke 98, Tren Bearish Berlanjut hingga Semester I 2026 Setali tiga uang, surat utang dengan peringkat AA juga mencatatkan penyusutan kupon. Pada kuartal I-2026, kupon berada di rentang 5,5% hingga 6,0%. Padahal, pada periode yang sama di tahun 2025, rata-rata kupon untuk peringkat ini masih bertengger di atas level 7,0%. Analis Fixed Income Putri menuturkan, rata-rata kupon obligasi korporasi pada kuartal I 2026 memang lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia dari 5,75% pada kuartal I 2025 menjadi 4,75% saat ini. “Namun dalam beberapa waktu terakhir trennya mulai kembali naik karena yield obligasi pemerintah ikut meningkat,” ujar Putri kepada Kontan, Rabu (15/4/2026). Bloomberg mencatat, yield obligasi negara tenor 10 tahun, naik ke 6,5% dari 6% di awal 2026. Ia menjelaskan, kenaikan yield tersebut dipicu oleh berbagai faktor eksternal, mulai dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, kenaikan yield US Treasury, lonjakan harga energi, hingga pelemahan rupiah dan meningkatnya ketidakpastian pasar. Dengan kondisi tersebut, meskipun biaya pendanaan saat ini masih lebih baik dibandingkan tahun lalu, ruang penurunannya dinilai semakin terbatas. Di sisi lain, Putri menekankan bahwa keputusan korporasi untuk menerbitkan obligasi tidak semata ditentukan oleh level
cost of fund. Emiten juga mempertimbangkan berbagai faktor lain seperti ketersediaan pinjaman bank, kondisi likuiditas internal, kebutuhan tenor, hingga fleksibilitas struktur pendanaan. Lebih lanjut, Putri melihat adanya indikasi pelebaran spread di pasar obligasi korporasi, terutama pada emiten dengan peringkat kredit lebih rendah. “Spread mulai melebar, khususnya untuk obligasi dengan rating lebih rendah, di mana kenaikan yield-nya lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah,” jelasnya. Sementara itu, untuk emiten dengan kualitas kredit tinggi, pergerakan yield relatif lebih stabil dan cenderung mengikuti arah Surat Berharga Negara (SBN). Ke depan, tekanan di pasar obligasi korporasi diperkirakan masih akan berlanjut apabila sentimen global tetap negatif, termasuk jika konflik geopolitik berkepanjangan dan harga energi tetap tinggi. Dalam kondisi tersebut, investor diperkirakan akan semakin selektif dan menuntut premi risiko yang lebih besar. Dari sisi penerbitan, Putri memperkirakan terdapat risiko penurunan volume obligasi korporasi pada sisa 2026, seiring prospek penurunan suku bunga yang lebih terbatas dibandingkan tahun lalu. Meski demikian, kebutuhan refinancing yang masih besar berpotensi menahan penurunan tersebut. “Korporasi kemungkinan akan menyesuaikan strategi pendanaannya, seperti menunda transaksi yang belum mendesak, memilih tenor lebih pendek, menerbitkan secara bertahap, atau memanfaatkan momentum pasar, terutama bagi emiten dengan profil kredit yang kuat,” pungkas Putri.
Meski demikian, Pefindo tetap optimistis penerbitan baru surat utang korporasi tahun ini tetap semarak, yakni berada di rentang Rp 154,00 triliun hingga Rp 196,86 triliun, dengan titik tengah sekitar Rp 175,77 triliun. Ini sejalan dengan nilai surat utang yang akan jatuh tempo pada periode Mei hingga Desember 2026 masih cukup besar, yakni mencapai Rp 124,12 triliun.
Baca Juga: Bitcoin Konsolidasi di Tengah Geopolitik, Analis Buka Peluang ke US$ 80.000 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News