Yield Naik, AAJI Sebut SRBI Bisa Jadi Daya Tarik bagi Asuransi Jiwa



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) melakukan langkah proaktif untuk membentengi nilai tukar Rupiah dari dampak ketidakpastian geopolitik, dengan menyesuaikan struktur suku bunga pasar melalui kenaikan imbal hasil atau yield instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). 

Mengenai hal itu, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menilai peningkatan yield SRBI dapat meningkatkan daya tarik instrumen tersebut bagi investor institusi, termasuk industri asuransi jiwa.

"Khususnya, dari sisi pengelolaan likuiditas dan penempatan dana jangka pendek," ungkap Direktur Eksekutif AAJI Emira Oepangat kepada Kontan, Selasa (12/5/2026).


Baca Juga: Era KPR Bergeser, Pembelian Rumah Secara Tunai Naik Diam-Diam

Meski demikian, Emira berpendapat kenaikan yield SRBI tersebut tidak serta-merta membuat industri asuransi jiwa akan secara signifikan menambah porsi investasi di instrumen SRBI. Dia bilang industri asuransi jiwa tetap perlu mempertimbangkan strategi investasi jangka panjang dan kesesuaian antara aset dan kewajiban.

"Karakteristik kewajiban industri asuransi jiwa mayoritas bersifat jangka panjang. Dengan demikian, perusahaan tetap perlu menjaga kesesuaian antara tenor aset dan liabilitas atau asset liability matching," tuturnya.

Oleh karena itu, Emira menyebut SRBI lebih relevan sebagai instrumen pelengkap dalam pengelolaan portofolio investasi, sedangkan kebutuhan investasi jangka panjang tetap memerlukan kombinasi instrumen lain dengan tenor yang lebih panjang.

Sebagai informasi, berdasarkan data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penempatan investasi asuransi jiwa di instrumen SRBI tercatat sebesar Rp 810,50 miliar per Maret 2026. Nilainya menurun dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 2,22 triliun. 

Baca Juga: BI Batasi Pembelian Dolar Tanpa Underlying, Begini Kata BCA

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: