Yield Naik Akibat Tren Bunga Tinggi BI, Ini Prospek Obligasi di Semester II-2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan pasar obligasi sepanjang Juni 2026 dipicu oleh kombinasi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), tekanan terhadap nilai tukar rupiah, kenaikan inflasi, serta meningkatnya ekspektasi yield di pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan kondisi tersebut mendorong investor meminta kompensasi imbal hasil yang lebih tinggi, sehingga harga obligasi terkoreksi.

"Ketika yield naik, harga obligasi turun sehingga Indobex Government Bond Total Return Index terkoreksi lebih dalam," ujar Rizal kepada Kontan, Rabu (1/7/2026).


Baca Juga: Rupiah Ditutup di Level Rp 17.995 per Dolar Kamis (2/7), Pelemahan 3 Hari Beruntun

Menurut dia, tekanan yang terjadi di pasar obligasi bukan hanya bersifat teknikal, melainkan mencerminkan repricing risiko di tengah meningkatnya ketidakpastian makroekonomi.

"Tekanan ini bukan sekadar teknikal, tetapi mencerminkan repricing risiko sehingga investor meminta kompensasi yield lebih tinggi karena risiko inflasi, nilai tukar, dan arah kebijakan moneter menjadi lebih ketat," kata Rizal.

Rizal menjelaskan, penurunan harga obligasi pemerintah lebih dalam dibandingkan obligasi korporasi karena Surat Utang Negara (SUN) lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga dan pergerakan yield acuan.

Selain itu, obligasi pemerintah memiliki likuiditas yang lebih tinggi dan menjadi instrumen utama bagi investor asing. Akibatnya, ketika terjadi tekanan pada rupiah maupun kenaikan ekspektasi yield, koreksi harga lebih cepat tercermin di pasar.

"Obligasi pemerintah juga lebih likuid dan menjadi instrumen utama investor asing, sehingga ketika terjadi tekanan rupiah atau ekspektasi kenaikan yield, koreksinya lebih cepat tercermin di harga pasar," ujar Rizal.

Di sisi lain, obligasi korporasi cenderung lebih tahan terhadap gejolak pasar. Hal itu karena mayoritas memiliki tenor yang lebih pendek, basis investor yang lebih didominasi investor domestik, serta banyak dipegang hingga jatuh tempo sehingga penyesuaian harga berlangsung lebih lambat.

Untuk semester II 2026, Rizal memperkirakan pasar obligasi masih akan bergerak volatil. Kendati demikian, peluang pemulihan harga tetap terbuka apabila kondisi makroekonomi membaik.

Menurutnya, stabilisasi nilai tukar rupiah, inflasi yang tetap berada dalam sasaran Bank Indonesia, serta tidak adanya kenaikan suku bunga acuan secara agresif dapat menjadi faktor yang mendorong stabilisasi yield SBN dan rebound harga obligasi.

Baca Juga: Termasuk Saham Raffi Ahmad, Investor Bisa Pesan 6 Saham IPO, Cek Rekomendasi Analis!

Meski demikian, ia mengingatkan masih terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati, antara lain meningkatnya tekanan eksternal, kenaikan harga energi, pelebaran defisit transaksi berjalan, hingga meningkatnya kebutuhan pembiayaan fiskal yang berpotensi menambah pasokan SBN di pasar.

Dari sisi valuasi, Rizal menilai obligasi Indonesia mulai menawarkan daya tarik karena tingkat yield telah meningkat. Namun, investor tetap perlu mempertimbangkan risiko yang melekat, terutama risiko durasi dan potensi kerugian akibat penyesuaian harga (mark-to-market).

Bagi investor dengan profil risiko konservatif, ia menyarankan strategi akumulasi secara bertahap dengan memilih obligasi bertenor pendek hingga menengah, berfokus pada instrumen berkualitas tinggi, serta menyesuaikan jangka waktu investasi dengan jatuh tempo obligasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News