Yield Obligasi AS 30 Tahun Sentuh Level Tertinggi 19 Tahun, Ini Pemicunya



KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 30 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 2007 pada Kamis (30/7).

Sementara pasar saham global berupaya pulih setelah laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi raksasa memberi harapan bahwa investasi besar di bidang kecerdasan buatan (AI) mulai membuahkan hasil.

Baca Juga: AS Serang Puluhan Target IRGC, Konflik Timur Tengah Kian Memanas


Melansir Reuters, yield obligasi Treasury AS tenor 30 tahun sempat menyentuh 5,239%, level tertinggi dalam 19 tahun.

Kenaikan ini terjadi setelah bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan, namun Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan sinyal yang beragam mengenai arah kebijakan moneter dan prospek inflasi.

Pelaku pasar masih kesulitan menebak langkah The Fed berikutnya. Situasi semakin rumit setelah Warsh mengurangi praktik pemberian panduan (forward guidance) terkait arah kebijakan ke depan.

Di sisi lain, pasar juga dibayangi aksi jual pada saham-saham yang sebelumnya menjadi motor reli AI. Indeks KOSPI Korea Selatan ditutup melemah 1,23%, menandai penurunan selama tiga hari berturut-turut.

"Kami tidak berpikir kisah AI sudah berakhir, tetapi jelas masih akan ada gejolak di sepanjang jalan," ujar Kepala Riset Ekuitas Rathbones, Sanjiv Tumkur.

Baca Juga: Jerman Hadapi Gelombang Panas Ekstrem, Korban Tewas Capai 9.800 Orang

Laporan keuangan Microsoft dan Meta menjadi perhatian investor yang mencari bukti bahwa belanja besar untuk pengembangan AI mulai menghasilkan keuntungan.

Saham Microsoft melonjak 7,97% pada perdagangan prapasar setelah perusahaan memperkirakan tetap mampu menghasilkan arus kas yang kuat hingga tahun fiskal 2027.

Sebaliknya, saham Meta anjlok 8,47% setelah laporan keuangannya mencerminkan tekanan akibat besarnya investasi perusahaan di bidang AI.

Analis Jefferies menilai Microsoft telah "memasuki jalur cepat", sedangkan Meta masih berada pada tahap membangun fondasi.

Kontrak berjangka Nasdaq 100 naik 0,41%, sementara futures S&P 500 dan Dow Jones masing-masing menguat 0,24%.

Di Eropa, indeks STOXX 600 naik 0,48%, sedangkan indeks MSCI All Country World Price menguat tipis 0,11% setelah dua sesi sebelumnya mencatat penurunan.

Baca Juga: ​Apple Upgrade Resmi Meluncur, iPhone hingga Mac Kini Bisa Disewa Bulanan

Ketegangan Timur Tengah Tambah Kekhawatiran

Pekan penting bagi pasar keuangan juga dibayangi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, yang mempersulit investor menilai dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi.

Penurunan harga minyak Brent pada bulan lalu membantu menjaga inflasi Juni tetap terkendali. Namun kini harga Brent telah naik kembali ke atas US$ 92 per barel.

Baca Juga: Efisiensi Biaya Dongkrak Laba Magnum Ice Cream, Lampaui Proyeksi Analis

Tiga pejabat The Fed bahkan menyatakan berbeda pendapat dalam rapat terakhir dengan mendukung kenaikan suku bunga.

Hal itu memunculkan spekulasi bahwa perbedaan pandangan di internal bank sentral bisa semakin tajam jika tekanan inflasi bertahan.

Ekonom RBC Economics menilai, The Fed pada paruh kedua tahun ini akan menghadapi kenyataan bahwa inflasi masih menjadi persoalan yang persisten.

Meski keputusan menahan suku bunga memberi waktu hingga pertemuan September untuk mencermati dua laporan inflasi berikutnya, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga terus meningkat.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September naik menjadi 65,2%, dibandingkan 57,3% sepekan lalu.

Namun, sebagian analis mempertanyakan efektivitas kenaikan suku bunga dalam kondisi saat ini.

Kepala Strategi Ekonomi Annex Wealth Management Brian Jacobsen mengatakan, menaikkan suku bunga untuk menghadapi inflasi yang dipicu gangguan pasokan merupakan langkah yang kurang tepat.

Baca Juga: Brescia Bangkrut Setelah 114 Tahun: Klub Baggio, Guardiola, Balotelli Terlilit Utang

Menurutnya, kenaikan suku bunga umumnya efektif meredam inflasi yang berasal dari lonjakan permintaan. Sementara ancaman inflasi saat ini lebih banyak dipicu risiko terganggunya pasokan minyak akibat ketidakpastian di Selat Hormuz.

Gangguan tersebut diperparah oleh serangan terhadap jalur alternatif pengiriman minyak melalui Selat Bab el-Mandeb yang dilakukan kelompok Houthi yang didukung Iran, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.