KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah menghadapi tekanan berat dari gejolak pasar keuangan global, mulai dari tingginya yield US Treasury, penguatan dolar AS, kenaikan yield obligasi Jepang, hingga harga minyak yang masih tinggi. Asal tahu saja, nilai tukar rupiah pada awal tahun 2026 bergerak di kisaran Rp 16.700-Rp 16.815 per dolar AS, sebelum kemudian mengalami tren pelemahan lebih lanjut sepanjang tahun. Pada Selasa (6/10) rupiah ditutup ke level Rp 17.899 per dolar AS atau menguat 0,10% secara harian.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi berpandangan, rupiah saat ini berada dalam fase defensif karena berbagai shock global yang datang secara bersamaan.
Baca Juga: IHSG Menguat 1,21%, Analis Cermati Peluang Penguatan pada Rabu (7/10) “Kondisi tersebut meningkatkan biaya peluang atau
opportunity cost memegang aset rupiah sekaligus memperbesar premi risiko,” ujar Syafruddin kepada Kontan, Selasa (6/10/2026). Menurut Syafruddin, tekanan eksternal tersebut sudah tercermin dalam repricing nilai tukar saat ini. Ia menyebut yield UST 10 tahun yang bertahan di sekitar 5,3% pada Selasa (6/10) menjadi salah satu sumber tekanan utama. Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) menguat ke sekitar 102,4, yield JGB 10 tahun berada di kisaran 3,10%-3,12%, sementara harga minyak masih tinggi. Syafruddin juga bilang bahwa probabilitas sekitar 78% untuk suku bunga The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober. Artinya, tekanan terhadap rupiah bukan hanya berasal dari keputusan The Fed, tetapi juga dari pergerakan yield global dan ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama. Di tengah tekanan tersebut, Syafruddin bilang strategi BI masih relevan. Tetapi masalahnya rupiah saat ini bukan kekurangan satu instrumen, melainkan tekanan yang datang melalui beberapa kanal sekaligus. BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75% pada September serta melanjutkan upaya stabilisasi kurs melalui intervensi valas, pengelolaan likuiditas, dan instrumen pasar uang untuk menjaga daya tarik aset rupiah. “Dalam shock global sebesar sekarang, fungsi utamanya ialah memutus momentum satu arah, memperkecil volatilitas, menjaga price discovery, dan mencegah pelemahan kurs berubah menjadi kenaikan premi risiko SBN,” paparnya. Namun, risiko tetap muncul apabila BI terlalu lama mempertahankan stabilitas rupiah dengan biaya likuiditas dan suku bunga yang besar. Karena itu, ia bilang, respons BI perlu dilakukan melalui kombinasi instrumen, mulai dari intervensi spot,
Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), pasar sekunder SBN, SRBI, hingga komunikasi kebijakan yang konsisten.
Baca Juga: Kinerja Emiten EBT Beragam, Ini Prospek PGEO, BREN dan KEEN hingga 2027 Di sisi domestik, fundamental ekonomi masih memberikan bantalan bagi rupiah. Namun, kualitas bantalan tersebut belum merata sehingga belum cukup kuat untuk menopang apresiasi rupiah secara berkelanjutan. Cadangan devisa pada akhir Agustus tercatat US$ 146,5 miliar atau setara sekitar 5,4 bulan impor. Menurut Syafruddin, posisi tersebut memberikan BI kapasitas intervensi yang memadai. Neraca perdagangan Januari-Agustus juga masih mencatat surplus US$ 7,25 miliar. Namun, komposisinya perlu dicermati karena surplus nonmigas sebesar US$ 28,54 miliar harus menutup defisit migas sebesar US$ 21,29 miliar. “Ini menunjukkan harga energi tetap menjadi titik lemah rupiah,” ungkapnya. Sementara itu, arus modal asing juga belum cukup kuat. Hingga 21 September, investasi portofolio asing pada kuartal III hanya mencatat net inflow sekitar US$ 0,4 miliar. Ke depan, kata Syafruddin level Rp 18.000 per dolar AS menjadi batas psikologis pertama yang perlu diwaspadai.
Untuk sisa 2026, Syafruddin memprediksi rupiah di kisaran Rp 17.850-Rp 18.200 per dolar AS hingga akhir tahun. Namun, risiko pelemahan yang lebih dalam tetap terbuka. Misalnya, skenario stres muncul jika UST bertahan di atas 5,3%, DXY menguat, minyak kembali naik, dan arus portofolio berbalik keluar. Dalam skenario tersebut, rupiah berisiko bergerak lebih lemah hingga Rp 18.500-Rp 18.650 per dolar AS sebagai tail risk.
Baca Juga: Prospek Saham Emiten Unggas Makin Cerah, Harga Broiler dan Program MBG Jadi Katalis Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News