Yield Obligasi AS Sempat Tembus Tertinggi 14 Bulan, Lalu Terkoreksi



KONTAN.CO.ID - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor panjang sempat melonjak ke level tertinggi lebih dari satu tahun sebelum akhirnya terkoreksi, di tengah tekanan pasar global akibat kekhawatiran inflasi dari konflik perang Iran.

Melansir Reuters Senin (18/5/2026), imbal hasil obligasi acuan US 10-Year Treasury Note sempat naik ke 4,631% dalam perdagangan overnight, level tertinggi sejak Februari 2025, sebelum kembali turun ke sekitar 4,585%.

Baca Juga: Ekonomi ASEAN Terancam, US$ 13,1 Miliar Pajak Hilang Akibat Rokok Ilegal


Sementara itu, imbal hasil obligasi jangka panjang US 30-Year Treasury Bond juga sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari satu tahun sebelum turun tipis sekitar 2 basis poin ke 5,125%.

Lonjakan awal yield dipicu kenaikan harga minyak yang sempat menembus US$111 per barel, memperkuat kekhawatiran inflasi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait konflik Iran dan risiko gangguan jalur distribusi minyak di Selat Hormuz.

Analis TD Securities Molly Brooks menyebut, pasar saat ini masih berada dalam fase volatil tanpa arah jelas karena ketidakpastian perkembangan konflik.

“Tidak banyak keyakinan sampai kita melihat akhirnya, dan saat itulah kita akan benar-benar melihat rally,” ujarnya.

Baca Juga: Harga BBM Kenya Mencekik: Transportasi Mogok, Ekonomi Terancam Lumpuh!

Di sisi kebijakan moneter, selisih imbal hasil antara obligasi tenor 2 tahun dan 10 tahun tercatat sekitar 52,91 basis poin, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan ekonomi dan arah suku bunga ke depan.

Imbal hasil US 2-Year Treasury Note sendiri sempat naik ke level tertinggi 14 bulan di 4,105% sebelum turun kembali ke 4,054%, sejalan dengan perubahan ekspektasi suku bunga jangka pendek.

Saat ini, pasar memperkirakan probabilitas sekitar 44% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada Desember, sementara kemungkinan kebijakan tetap pada pertemuan Juni mencapai lebih dari 94%.

Analis menilai, pasar obligasi kini mengirim sinyal bahwa inflasi berpotensi bertahan lebih lama, didorong oleh harga energi, risiko geopolitik, dan kekhawatiran defisit fiskal.

Baca Juga: Harga Platinum Berpotensi Terbang 71% pada 2026, Dipicu Defisit Pasokan

Menurut CEO deVere Group, deVere Group, Nigel Green, investor kini menuntut kompensasi lebih tinggi atas risiko inflasi dan ketidakpastian global.

Di sisi lain, pasar juga menantikan lelang obligasi tenor 20 tahun oleh Departemen Keuangan AS pekan ini untuk mengukur permintaan investor terhadap surat utang di tengah volatilitas pasar.