Yield Obligasi Global Melonjak, Pasar Saham Relatif Bertahan pada September



KONTAN.CO.ID - Pasar obligasi global menghadapi tekanan berat pada September 2026 seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah, lonjakan penerbitan surat utang dan inflasi yang masih tinggi.

Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi di sejumlah negara. Namun, pasar saham relatif mampu bertahan meski biaya pinjaman meningkat, dengan sejumlah bursa Asia bergerak positif pada perdagangan Rabu (30/9/2026).

Baca Juga: Impor Emas China Naik Tajam pada 2026, Padahal Jadi Produsen Terbesar Dunia


Imbal hasil atau yield menjadi perhatian utama investor karena imbal hasil obligasi pemerintah menjadi acuan bagi berbagai aset keuangan, termasuk saham, kredit korporasi dan pembiayaan perumahan.

Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 5,2383% pada perdagangan Asia, dekat dengan level tertinggi sejak 2007.

Yield tersebut berada di jalur kenaikan hampir 50 basis poin sepanjang September, yang akan menjadi kenaikan bulanan terbesar dalam sekitar dua tahun.

Pergerakan harga obligasi berbanding terbalik dengan imbal hasil. Ketika yield naik, harga obligasi turun.

Sementara itu, yield US Treasury tenor dua tahun turun tipis menjadi 4,8889% setelah Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams meredam ekspektasi pengetatan kebijakan moneter lebih cepat. Namun, yield tenor dua tahun masih naik lebih dari 50 basis poin sepanjang bulan ini.

"Ini sudah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar perubahan ekspektasi terhadap beberapa pertemuan bank sentral berikutnya," kata Charu Chanana, Chief Investment Strategist Saxo dilansir dari Reuters.

Baca Juga: PMI Manufaktur China Naik ke 52,1 pada September, Tertinggi Lima Bulan

Menurut dia, pasar mulai bergerak menuju rezim dengan tingkat imbal hasil yang secara struktural lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat peluang yield kembali ke level yang sangat rendah seperti setelah krisis keuangan global menjadi lebih kecil.

Tekanan juga terlihat di pasar obligasi negara lain. Yield obligasi pemerintah Jepang berada di sekitar level tertinggi dalam beberapa dekade.

Sementara itu, yield obligasi pemerintah Jerman dan Prancis tenor 10 tahun mencapai level tertinggi dalam 17 tahun dan 18 tahun pada pekan ini.

Saham relatif bertahan

Kenaikan suku bunga bebas risiko yang berkepanjangan meningkatkan biaya refinancing perusahaan dan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi. Namun, dampaknya terhadap pasar saham sejauh ini masih relatif terbatas.

Baca Juga: Harga Minyak Brent Naik 14% September, Pasar Cermati Konflik AS-Iran

Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,2% pada awal perdagangan Rabu dan berada di jalur penurunan bulanan sedikit di atas 1%.

Indeks Nikkei Jepang naik 0,9% dan diperkirakan mengakhiri September relatif datar. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan berada di jalur kenaikan sekitar 1,4% sepanjang bulan ini.

Kontrak berjangka Nasdaq naik 0,13%, sedangkan S&P 500 menguat 0,16%. Kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX masing-masing naik 0,5%, sementara FTSE futures bertambah 0,4%.

Ketahanan pasar saham antara lain ditopang kinerja keuangan perusahaan yang positif, kekuatan ekonomi global serta tingginya minat investor terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Mohammed Apabhai, Head of Asia-Pacific Trading Strategy Citi mengatakan, pasar saham relatif mampu menyerap kenaikan yield karena pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nominal masih mendukung optimisme terhadap laba perusahaan.

"Pasar saham AS merespons kenaikan yield, tetapi hanya di luar sektor teknologi," kata Apabhai.

Baca Juga: Boeing Menang Kontrak US$20 Miliar untuk Jet Tempur Generasi Keenam AS

Dolar AS menguat

Kenaikan yield obligasi AS turut menopang dolar Amerika Serikat (AS). Dolar berada di jalur penguatan sekitar 2% sepanjang September.

Euro berada di dekat level terendah dalam 16 bulan, yakni sekitar US$1,1336. Euro juga berada di jalur penurunan 2,4% sepanjang September akibat tekanan dari gejolak energi global dan meningkatnya risiko politik di Eropa.

Pound sterling turun 0,03% menjadi US$1,3227 dan diperkirakan melemah 2,4% sepanjang bulan ini.

Sebaliknya, yen Jepang relatif stabil di 157,03 per dolar AS dan berada di jalur penguatan sekitar 1,7% sepanjang September. Investor masih mewaspadai kemungkinan intervensi bersama Tokyo dan Washington untuk menopang yen.

Baca Juga: Dolar AS Menguat 2,5% terhadap Euro pada September, Terkuat 14 Bulan

Di pasar komoditas, harga minyak kembali menguat. Brent naik 0,56% menjadi US$103,16 per barel, sedangkan minyak mentah AS naik 0,11% menjadi US$89,49 per barel.

Keduanya berada di jalur kenaikan bulanan di tengah kekhawatiran gangguan pasokan yang berkepanjangan akibat konflik di Timur Tengah.

Sementara itu, harga emas di pasar spot turun 0,2% menjadi US$4.171,93 per ons troi.