Yield Obligasi Global Naik Kamis (24/9), Pasar Saham Asia Mulai Tertekan



KONTAN.CO.ID - Pasar obligasi global kembali menjadi sumber tekanan bagi pasar keuangan pada Kamis (24/9/2026).

Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Jepang mengikuti kenaikan yield US Treasury, sementara bursa saham Asia bergerak beragam di tengah ketegangan Timur Tengah dan harapan kemajuan pembicaraan dagang Amerika Serikat (AS)-China.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Melemah Hari Ini (24/9), Cek Rekomendasi Saham Pilihan BNI Sekuritas


Pasar Jepang kembali dibuka setelah libur tiga hari. Yield surat utang pemerintah Jepang bertenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi dalam 30 tahun setelah aksi jual besar-besaran di pasar US Treasury pada perdagangan sebelumnya.

Yield obligasi Jepang tenor 10 tahun naik 8 basis poin menjadi 3,06%, level tertinggi sejak Agustus 1996. Sementara yield obligasi tenor 30 tahun naik 5,5 basis poin menjadi 4,12%.

Di pasar AS, yield US Treasury 10 tahun bertahan di 5,11% setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007 pada perdagangan malam sebelumnya.

Kenaikan yield terjadi ketika investor mulai memperhitungkan kemungkinan bank sentral mempertahankan atau kembali menaikkan suku bunga untuk merespons tekanan inflasi yang masih tinggi.

"Ekuitas benar-benar menunjukkan beberapa tanda mulai tertekan akibat kenaikan yield obligasi yang terus berlanjut," kata Ray Attrill, Kepala Strategi Valas National Australia Bank, dalam sebuah podcast.

Menurut Attrill, dalam kondisi pasar yang cenderung menghindari risiko, dollar AS masih mendapatkan dukungan sebagai aset safe haven.

Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (24/9): Anjlok Rp 25.000 Jadi Rp 2.605.000 Per Gram

Bursa Asia Bergerak Beragam

Tekanan dari pasar obligasi turut membayangi pasar saham Asia. Indeks MSCI Asia ex-Japan turun 0,64%, sementara Nikkei 225 Jepang justru menguat 1,73%.

Bursa Australia menjadi salah satu yang tertekan. Indeks S&P/ASX 200 turun 1,2% dan menyentuh level terendah dalam lebih dari tiga bulan.

Di sisi lain, investor masih mencermati pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Kunjungan Xi ke AS merupakan yang pertama dalam hampir tiga tahun.

Pertemuan tersebut diperkirakan belum menghasilkan terobosan besar. Namun, Washington dan Beijing berpeluang memperpanjang gencatan dagang yang telah berlangsung selama 11 bulan.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kedua negara telah mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan dagang tersebut ketika Trump menyambut Xi secara langsung di Joint Base Andrews, Maryland.

Baca Juga: Bursa Asia Melemah di Pagi Ini (24/9), Bursa Jepang Melonjak Usai Libur 3 Hari

Harga Minyak Mulai Turun

Ketegangan geopolitik masih menjadi faktor penting bagi pasar komoditas. Harga minyak turun dari level tertingginya setelah Iran dan AS melakukan komunikasi melalui utusan di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), meski belum terlihat kemajuan signifikan dalam upaya mengakhiri konflik.

Trump kembali menyampaikan ancaman eskalasi, sementara pemimpin Iran menyatakan negaranya tidak akan menyerah.

Harga minyak Brent turun 1% menjadi US$ 102,05 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 0,74% menjadi US$ 91,48 per barel.

Sementara itu, harga emas spot naik 0,35% menjadi US$ 4.301,89 per ons troi.

Baca Juga: BBRI & BMRI Teratas, Cek Saham Net Sell Terbesar Asing Saat IHSG Melonjak Kemarin

Pasar Pantau Sinyal The Fed

Investor juga menunggu sejumlah pernyataan pejabat bank sentral dan data ekonomi AS untuk membaca arah kebijakan suku bunga selanjutnya. Salah satu data yang menjadi perhatian adalah klaim pengangguran mingguan AS.

Departemen Tenaga Kerja AS diperkirakan melaporkan klaim pengangguran awal naik menjadi 201.000 pada pekan yang berakhir 19 September. Klaim berkelanjutan diperkirakan meningkat 15.000 menjadi 1,745 juta pada pekan sebelumnya.

Penjualan rumah baru AS pada Agustus diperkirakan naik tipis menjadi 615.000 unit dari 607.000 unit pada Juli.

Gubernur Federal Reserve Michael Barr pada Rabu (23/9) mengatakan kenaikan suku bunga terbaru merupakan bagian dari upaya menyesuaikan kembali biaya pinjaman. Ia juga mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga tambahan masih mungkin diperlukan.

Pasar selanjutnya akan mencermati pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams dan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack.

Di pasar valuta asing, indeks dollar AS turun tipis 0,04% menjadi 101,09. Euro melemah 0,02% menjadi US$ 1,14, sedangkan yen Jepang menguat 0,24% menjadi 157,91 per dollar AS.

Baca Juga: IHSG Melesat 1,56% ke 6.374, Cermati Saham yang Banyak Diborong Asing kemarin

Kontrak berjangka saham Eropa juga bergerak turun. Euro Stoxx 50 futures melemah 0,33% menjadi 6.304, DAX futures turun 0,33% menjadi 25.525, sedangkan FTSE futures turun 0,35% menjadi 10.739,50.

Di pasar aset kripto, Bitcoin naik tipis 0,07% menjadi US$ 84.288,53. Ether menguat 0,46% menjadi US$ 2.683,24.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News