Yield Obligasi Jepang Sentuh Level Tertinggi Sejak 1996, Khawatir Inflasi Memanas



KONTAN.CO.ID. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang atau Japanese Government Bonds (JGB) melonjak tajam pada perdagangan Senin (18/5/2026), dengan yield tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak Oktober 1996.

Lonjakan ini memperpanjang aksi jual obligasi global di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral untuk meredam inflasi.

Baca Juga: Negosiasi Gaji Samsung Memanas, Ancaman Mogok Buruh Bayangi Industri Chip Korsel


Melansir Reuters, Yield obligasi Jepang tenor 10 tahun naik 7,5 basis poin (bps) menjadi 2,775% setelah sempat menyentuh level intraday 2,800%, tertinggi sejak Oktober 1996.

Sementara itu, yield obligasi tenor lima tahun naik 3,5 bps menjadi 2,020% dan sempat mencetak rekor intraday baru di level 2,025%.

Kenaikan yield berarti harga obligasi mengalami penurunan.

Pergerakan yield JGB mengikuti lonjakan tajam yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) yang pada Jumat lalu mencapai level tertinggi dalam satu tahun terakhir.

Baca Juga: Rupanya Bukan Dollar AS, Ini Mata Uang Terkuat Dunia Mei 2026

Lonjakan tersebut dipicu kenaikan harga minyak akibat gangguan di Timur Tengah yang kembali memicu kekhawatiran inflasi global.

Yield obligasi pemerintah Jerman dan Italia juga tercatat melonjak.

Pasar kini semakin memperkirakan Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan Juni mendatang, setelah bank sentral Jepang mempertahankan suku bunga pada April dengan nada kebijakan yang lebih hawkish.

Selain itu, laporan mengenai rencana pemerintah Jepang menyusun anggaran tambahan untuk mengatasi kenaikan biaya bahan bakar turut memicu kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Jepang dan memberi tekanan tambahan pada pasar obligasi.

“Karena tekanan kenaikan yield menyebar dari JGB dan obligasi Inggris ke US Treasury dan obligasi zona euro, perhatian kini tertuju pada apakah para pembuat kebijakan di berbagai negara akan mengambil langkah untuk menahan kenaikan suku bunga,” ujar Senior Rate Strategist SMBC Nikko Securities, Ataru Okumura.

Baca Juga: WHO Tetapkan Darurat Ebola, Vaksin untuk Virus Ini Belum Tersedia

Namun demikian, Okumura menilai reaksi pasar obligasi Jepang saat ini cenderung berlebihan.

“Kenaikan yield di Jepang mulai meningkat sejak pertengahan pekan lalu setelah muncul laporan soal anggaran tambahan. Namun karena skala kebijakan tersebut masih belum jelas, reaksi pasar JGB terlihat terlalu berlebihan,” katanya.

Di sisi lain, yield obligasi Jepang tenor 20 tahun juga melonjak 9,5 bps menjadi 3,735%, level tertinggi sejak Agustus 1996, berdasarkan data Japan Bond Trading Company.