KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Meroketnya imbal hasil atau
yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun hingga 7,7% berpotensi mendorong kenaikan
yield obligasi korporasi. Di tengah ketidakpastian pasar keuangan dan belum tuntasnya persoalan klasifikasi pasar modal Indonesia, biaya pendanaan korporasi diperkirakan semakin mahal hingga akhir 2026. Bersamaan dengan kondisi tertekannya pasar surat utang domestik, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto memperkirakan,
yield obligasi korporasi berperingkat AAA dengan tenor tiga tahun berpotensi merangkak naik menuju 8% hingga akhir tahun 2026 ini.
Baca Juga: Yield SBN Naik, Yield Obligasi Korporasi Ikut Terkerek pada September 2026 Sebagai gambaran, Pefindo mencatat,
yield obligasi korporasi pada tenor tiga tahun pada 28 Oktober untuk peringkat AAA tercatat sebesar 7,64%, AA sebesar 7,88%, A sebesar 8,63%, dan BBB sebesar 10,75%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan
yield SBN tenor yang sama sebesar 7,32%. “Saya sih prediksi bisa ke 7,75% atau 7,85% ya itu sangat mungkin. Karena sampai sekarang ini market masih bingung karena penyelesaian isu ini, internal ini belum satu suara antara regulator dan pemerintah. Jadi masih ambigu sekali. Terutama asingnya sendiri yang tidak nyaman, akhirnya mereka banyak keluar karena itu kan,” ujar Ramdhan kepada Kontan, Kamis (28/10/2026). Menurut Ramdhan, tekanan terhadap pasar obligasi domestik berasal dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Ketidakpastian geopolitik, termasuk ketegangan di Timur Tengah, turut membayangi pasar global. Sementara dari dalam negeri, pasar keuangan masih menghadapi ketidakpastian terkait usulan reklasifikasi pasar modal Indonesia dari
emerging market menjadi
standalone market oleh penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Baca Juga: Biaya Dana Naik, Pasar Obligasi Korporasi Berpotensi Makin Terpolarasi Tekanan tersebut tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi juga merembet ke pasar obligasi. Kenaikan yield SBN berpotensi mendorong investor meminta imbal hasil lebih tinggi pada obligasi korporasi karena SBN menjadi salah satu acuan dalam menentukan tingkat pengembalian investasi. Ramdhan bilang, kondisi tersebut berdampak terhadap biaya pendanaan (cost of fund) emiten. Sebab, bagi perusahaan yang berencana menerbitkan obligasi baru harus menawarkan imbal hasil lebih tinggi agar dapat menarik minat investor. Pun, bagi obligasi yang sudah beredar, kenaikan yield pasar berpotensi menekan harga di pasar sekunder. “Dampaknya memang kalau
cost of fund-nya meningkat, perusahaan akan berpikir ulang untuk menerbitkan, terutama bagi mereka yang secara
return-nya agak kesulitan untuk mendapatkan return lebih tinggi dibandingkan bunga obligasinya,” jelasnya.
Dari sisi strategi investasinya, Ramdhan memandang obligasi korporasi dengan peringkat kredit tinggi, khususnya AAA dan di atas AA, relatif lebih menarik bagi investor yang ingin menjaga kualitas kredit portofolionya di tengah volatilitas pasar.
Baca Juga: Ditopang Refinancing, Pefindo sebut Penerbitan Obligasi Korporasi Masih Bergairah Terakhir, ia menekankan kejelasan tata kelola pasar modal domestik itu amat penting agar investor domestik maupun asing dapat menilai risiko investasi di Indonesia dengan lebih pasti. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News