KONTAN.CO.ID - JAKARTA.
Yield obligasi Indonesia dengan tenor 10 tahun bertahan di bawah level 7% hampir tiga minggu lamanya. Berdasarkan data tradingeconomics.com,
yield Indonesia 10Y bond pada Senin, (12/12) berada di level 6,95%. Dengan turunnya
yield obligasi tersebut, berarti harga obligasi saat ini cenderung naik. Sebagaimana diketahui, pergerakan harga obligasi berlawanan dengan pergerakan tingkat yield-nya. Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro memprediksi, sampai dengan akhir tahun 2022,
yield obligasi domestik akan bergerak naik dengan rentang yang cukup terbatas. Pemicunya berasal dari berbagai faktor ketidakpastian, seperti volatilitas kurs rupiah dan potensi kenaikan
yield US Treasury yang sewaktu-waktu bisa mendorong kenaikan
yield obligasi domestik.
Selain itu, pasar juga akan dihadapkan dengan kenaikan suku bunga acuan beberapa bank sentral. Mulai dari bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed, Bank Sentral Eropa, Bank of England, dan Bank Indonesia. Di sisi lain, jika The Fed bisa lebih bernada
dovish pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Kamis (15/12), maka bisa menjadi sentimen positif untuk pasar. "Berdasarkan sentimen-sentimen tersebut, saya memproyeksi yield obligasi negara tenor sepuluh tahun bisa saja ke level 7,10%-7,15% di akhir tahun," kata Nicodimus saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (12/12).
Baca Juga: Yield Obligasi Negara Bertahan di Bawah 7%, Saat yang Tepat untuk Masuk? Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto memperkirakan,
yield obligasi negara tenor sepuluh tahun kemungkinan berada di level 6,75%-7,25% pada pengujung tahun 2022. Prediksi tersebut sudah
priced in potensi kenaikan suku bunga acuan pada Desember ini. Sementara untuk tahun 2023, Rudiyanto memprediksi
yield obligasi akan turun lagi ke level 6%-6,5%. Penurunan
yield ini akan menjadi sentimen positif untuk reksa dana pendapatan tetap. Akan tetapi, ada risiko apabila inflasi pada tahun depan masih belum terkendali. "Yang dilihat orang sekarang itu bulan per bulan. Inflasi intinya apakah melanjutkan tren penurunan atau tidak," ucap Rudiyanto. Meskipun begitu, secara umum, inflasi diproyeksi turun pada 2023. Pelaku pasar bakal mencermati seberapa cepat inflasi dapat turun sehingga kenaikan suku bunga tinggi tidak diperlukan lagi. "Jika inflasi turun dan resesi membuat penurunan suku bunga bisa lebih cepat, maka potensi kenaikan
yield obligasi cukup besar," ungkap Rudiyanto. Bernada serupa, Nicodimus menyampaikan, pasar obligasi pada tahun 2023 akan dipengaruhi oleh tiga hal utama, yaitu inflasi, suku bunga, dan gerak nilai tukar rupiah. Inflasi diproyeksi akan melandai seiring pelonggaran kebijakan moneter bank sentral. Akan tetapi, pelaku pasar harus mewaspadai risiko ketidakpastian inflasi yang dapat saja terus meningkat seiring berlanjutnya krisis energi akibat konflik Rusia-Ukraina dan dampak dari re-opening China.
Baca Juga: Volatilitas Pasar Modal Berpotensi Lanjut Pada 2023, Perhatikan Sentimen Ini Kemudian, gerak rupiah akan dibayangi ketidakpastian gerak indeks dolar AS. Apalagi tahun depan akan dibayangi perlambatan ekonomi global yang akan mendorong dolar AS semakin disasar pelaku pasar karena sifatnya yang
safe haven sehingga berpotensi menekan kinerja rupiah dan pasar obligasi. Selanjutnya, pergerakan suku bunga bank sentral AS ke depannya akan dipengaruhi tingkat inflasi dan pergerakan mata uang itu sendiri. Namun, terlepas dari beberapa risiko tersebut,
yield obligasi masih berpotensi untuk turun karena adanya perubahan arah kebijakan dari bank sentral. Jika inflasi sanggup melandai pada semester II-2023, maka beberapa bank sentral kemungkinan akan memberikan pandangan yang lebih
dovish sehingga pasar obligasi juga akan berbalik arah mengalami penguatan.
"Jadi untuk menyikapi kondisi pasar obligasi tahun 2023, investor harus paham timing yang tepat kapan akan ada sentimen yang
bullish atau
bearish sehingga dapat memaksimalkan potensi
return dan terhindar dari
timing risk," tutur Nicodimus. Ketika tren kenaikan
yield akan segera berakhir, investor bisa memanfaatkannya untuk mulai mengakumulasi pembelian seri obligasi. Saat itu, harga obligasi terdiskon sehingga investor bisa mendapatkan capital gain dari kenaikan harga ke depannya. Nicodimus memprediksi, tren kenaikan
yield akan hampir selesai pada akhir kuartal II-2023. Dengan catatan, inflasi semakin melandai dan The Fed menahan kenaikan suku bunga lanjutan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News