Yield SBN Berisiko Naik hingga 7,4%, Dana Asing Bisa Keluar Rp 60 Triliun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan eksternal yang diakibatkan oleh lonjakan inflasi produsen di Amerika Serikat membawa efek domino bagi pasar surat utang domestik.

Menyempitnya selisih imbal hasil (spread) antara Surat Berharga Negara (SBN) dan US Treasury berisiko memicu keluarnya aliran modal asing (capital outflow) bernilai puluhan triliun rupiah hingga mengunci ruang pelonggaran moneter Bank Indonesia.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman memperkirakan bahwa pergerakan imbal hasil atau yield SBN akan terus mengalami tren kenaikan hingga penutupan tahun 2026.


Baca Juga: Pasar Saham Goncang, Danantara Sebut Valuasi Saham BUMN Rendah dan Menarik Dibeli

Tekanan ini bersumber dari menguatnya dolar AS dan melemahnya nilai tukar rupiah, yang pada akhirnya mendongkrak premi risiko investasi di dalam negeri.

Berdasarkan proyeksinya hingga akhir 2026, yield SBN untuk tenor 5 tahun diproyeksikan akan merangkak naik ke kisaran 6,5% hingga 7,0%.

Sementara itu, untuk seri acuan tenor 10 tahun, pergerakannya diestimasi berada pada rentang yang lebih tinggi, yakni 6,9% hingga 7,4%.

"Penyempitan spread SBN dengan US Treasury mengurangi daya tarik obligasi domestik, terutama ketika rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS," ungkap Rizal kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).

Risiko utama dari tekanan tersebut, lanjut Rizal, bukanlah sekadar hengkangnya investor asing dari pasar domestik, melainkan adanya efek berantai (simultan) yang dapat menekan stabilitas rupiah, menggerus likuiditas, dan mendongkrak beban biaya pembiayaan pemerintah.

"Dalam skenario moderat, yield SBN berpotensi meningkat 30–60 basis poin, bahkan 75–100 basis poin jika tekanan eksternal memburuk," kata Rizal.

Situasi ini pada akhirnya mendorong meningkatnya risiko arus keluar modal asing secara signifikan.

Mengacu pada simulasi skenario yang dibuat Indef, potensi outflow di pasar SBN diproyeksikan mencapai Rp 15 triliun hingga Rp 30 triliun.

Namun, apabila tekanan eksternal bereskalasi menjadi kondisi yang sangat berat hingga akhir tahun, angka dana yang kabur berpotensi membengkak ke kisaran Rp 40 triliun hingga Rp 60 triliun.

Baca Juga: Ini Jenis Klasifikasi MSCI dan Penjelasannya

Tingginya tekanan di pasar finansial tersebut diperkirakan akan sangat memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral.

BI diproyeksikan tidak memiliki ruang yang cukup untuk memangkas suku bunga dan justru harus menahan BI-Rate di level 5,75% lebih lama hingga akhir 2026.

Langkah mempertahankan suku bunga tinggi ini dinilai jauh lebih mendesak untuk menjaga stabilitas rupiah dan mencegah risiko pembengkakan imported inflation, ketimbang memaksakan pelonggaran moneter di tengah tingginya ketidakpastian global.

Berdasarkan data PHEI hingga 15 Oktober 2026,  yield SBN benchmark tenor lima tahun seri FR0109 naik ke level 7,02% dari 7,01%. Sedangkan tenor 10 tahun yakni seri FR0108 naik dari 7,2% menjadi 7,22%. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News