KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang kian melandai ke kisaran 7,1% menjadi momentum bagi pemodal untuk menyusun strategi investasi. Penurunan yield diproyeksikan berlanjut hingga akhir tahun, membuka ruang kenaikan harga obligasi tenor 5 dan 10 tahun. Pasar obligasi pemerintah domestik mulai memperlihatkan ruang penurunan imbal hasil (yield), meski pergerakannya diperkirakan berjalan secara bertahap.
Tingkat yield SBN sebesar 7,1% saat ini dapat dimanfaatkan oleh investor untuk mulai mengunci imbal hasil secara berangsur (staggered entry). Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat, opsi tenor yang dipilih sangat bergantung pada profil risiko pemodal. Bagi yang mengincar imbal hasil optimal, instrumen tenor panjang menawarkan prospek harga yang lebih menarik saat yield melandai.
Baca Juga: SBN Rp 190 Triliun Jatuh Tempo, Yield Obligasi Berpeluang Turun "Jika memperkirakan yield terus turun, tenor 10 tahun lebih menarik karena potensi capital gain-nya lebih besar. Investor yang lebih konservatif bisa memilih tenor 3–5 tahun karena volatilitas harganya lebih rendah," terang Budi kepada Kontan, Rabu (19/8/2026). Menurut Budi, hingga akhir 2026, yield SBN tenor 5 tahun diproyeksikan melandai ke kisaran 6,7%–6,9%, sementara tenor 10 tahun bergerak ke level 6,9%–7,1%. Penurunan yield ini mengindikasikan masih tersedianya ruang apresiasi harga sekitar 10 bps hingga 30 bps dari posisi saat ini. Meski demikian, laju penurunan yield SBN diperkirakan sulit bergerak sangat agresif. Kendati inflasi Juli melandai ke 2,88% dan RAPBN 2027 menargetkan defisit 2,4% PDB, tekanan eksternal masih cukup tebal akibat tingkat yield US Treasury 10 tahun yang bertahan di kisaran 4,71% serta harga minyak Brent yang bertengger di atas US$ 90 per barel. Guna mengantisipasi gejolak eksternal tersebut, Budi mengingatkan agar pemodal tetap cermat dalam mengelola durasi portofolio.
Baca Juga: ORI030 Sukses Sedot Rp 40 T, Ini Daftar SBN yang Akan Terbit Hingga Akhir 2026 "Saya tidak menyarankan untuk langsung memperpanjang seluruh durasi karena pasar obligasi global sedang cukup volatil," kata Budi. Di sisi lain, keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang mempertahankan BI Rate di level 5,75% dinilai memberikan dampak netral hingga cenderung positif bagi pasar obligasi. Kebijakan ini menandakan bank sentral tidak perlu melakukan pengetatan tambahan selama stabilitas rupiah dan inflasi terkendali.
Secara teknis, pergerakan SBN tenor 5 tahun diproyeksikan lebih sensitif terhadap sinyal arah BI Rate dengan peluang yield melandai ke 6,9%–7,0%. Sementara itu, pergerakan tenor 10 tahun akan lebih banyak dipengaruhi oleh dinamika US Treasury, arah kebijakan fiskal, serta volume suplai obligasi pemerintah di pasar sekunder.
Baca Juga: Dibayangi Risiko Tekanan Global, Begini Prospek Pergerakan Yield SBN Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News