KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang kian melandai ke kisaran 7,1% membuka peluang akumulasi bagi investor. Bentuk kurva imbal hasil yang mulai curam (steepening) memberi ruang penurunan
yield yang lebih lebar pada obligasi tenor 5 tahun hingga akhir tahun. Tren imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dalam negeri terus menunjukkan sinyal melandai.
Posisi
yield SBN tenor 10 tahun yang kini bertengger di kisaran 7,13% dinilai masih menawarkan tingkat imbal hasilĀ yang relatif kompetitif, sehingga dapat dimanfaatkan pemodal untuk melakukan akumulasi secara selektif. Portofolio Manager Batavia Prosperindo Aset Manajemen Putri Nur Astiwi mengamati pergerakan kurva
yield yang sebelumnya cenderung datar (flat) kini mulai bergeser membentuk pola
steepening.
Baca Juga: Pemerintah Akan Tarik Utang Baru Rp 876,27 T pada 2027, Mayoritas dari SBN Kondisi ini mengindikasikan bahwa potensi penurunan imbal hasil pada instrumen tenor pendek akan relatif lebih besar. "Kurva
yield sebelumnya cenderung sangat flat, meskipun belakangan mulai terlihat
steepening mendukung potensi ruang penurunan
yield relatif lebih besar pada tenor 5 tahun dibandingkan tenor 10 tahun," ujar Putri kepada Kontan, Rabu (19/8/2026). Penurunan imbal hasil instrumen utang pemerintah ini ditopang oleh perbaikan persepsi risiko Indonesia. Penurunan signifikan
Credit Default Swap (CDS) 5 tahun sepanjang Agustus dipicu oleh rilis pertumbuhan PDB kuartal II yang melampaui ekspektasi, kepemimpinan baru di Bank Indonesia, serta proyeksi defisit RAPBN 2027 sebesar 2,40% PDB yang lebih rendah dari target APBN 2026. Ditambah lagi, nilai tukar rupiah yang menguat ke level Rp 17.855 per dolar AS makin memperkokoh fondasi pasar obligasi domestik. Berdasarkan
forecast skenario
base case hingga akhir 2026,
yield SBN tenor 5 tahun diperkirakan melandai ke kisaran 6,7%, sedangkan tenor 10 tahun berada di level 6,9%.
Baca Juga: Pemerintah Perkirakan Suku Bungan SBN 10 Tahun di 6,9% dalam RAPBN 2027 Chief Dealer Fixed Income & Derivatives PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Fudji Rahardjo menilai bahwa dengan
yield 10 tahun di level 7,13%, investor masih memiliki ruang untuk masuk ke tenor pendek demi menjaga kestabilan portofolio dari risiko durasi. "Tenor pendek seperti 2-5 tahun terlihat menarik dengan risiko durasi yang lebih terkontrol, sambil mempertahankan ruang untuk penambahan apabila yield tenor 10y kembali mengalami kenaikan," kata Fudji. Di sisi lain, ekspektasi pasar terhadap Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang menahan BI Rate di level 5,75% dinilai sudah di-price in oleh pelaku pasar. Fokus investor kini tertuju pada arah kebijakan likuiditas bank sentral mendatang.
Kondisi rupiah yang stabil serta meredanya tekanan Indeks Dolar AS (DXY) ke level 99,5 memberikan kelonggaran bagi BI untuk tidak terlalu agresif menyerap likuiditas melalui SRBI.
Baca Juga: Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur, Ekonom: Berpotensi Guncang Rupiah dan Pasar SBN Apabila bank sentral mulai menunjukkan sinyal
pro-growth, tren
bull-steepening diproyeksikan berlanjut dan memperkuat daya tarik SBN tenor pendek hingga akhir tahun. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News