Yield SBN Melonjak, Segini Besaran Perkiraan Kupon ST017



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jika tidak ada aral melintang, pemerintah Indonesia bakal menawarkan instrumen investasi Surat Berharga Negara (SBN) ritel melalui Sukuk Tabungan (ST) seri ST017 pada 6 November hingga 22 Desember 2026.

Menjelang penawaran ST017 ini imbal hasil alias yield Surat Berharga Negara (SBN) justru mengalami kenaikan. Ini tercermin dari Indonesia Government Securities Yield Curve (IGSYC) dari Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI). 

Pada 4 November 2026, yield SBN dua tahun mencapai 7,13% atau naik 0,42 basis poin (bps) dibanding penutupan sebelumnya. Sementara, yield empat tahun meningkat 1,02 bps menjadi 7,48%.


Baca Juga: Pasar Saham Bergejolak, Reksadana Pasar Uang Masih Cetak Return Positif

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menjelaskan kenaikan yield SBN pasar sekunder dapat mengalihkan sebagian calon pembeli ST017, terutama investor yang mengejar imbal hasil dan membutuhkan fleksibilitas menjual sebelum jatuh tempo. 

“Investor SBN tradable juga menghadapi kerugian harga jika yield kembali naik, sedangkan ST017 memiliki imbalan mengambang dengan batas minimum dan tidak dapat diperdagangkan,” jelasnya saat dihubungi Kontan, Rabu (4/11).  

Sebagai gambaran, pada Sukuk Tabungan seri ST016 pemerintah menetapkan kupon sebesar 6,05% per tahun untuk tenor dua tahun pada seri ST016-T2. Kemudian kupon 6,25% per tahun untuk ST016-T4 dengan sektor tenor 4 tahun.

Menurutnya, tekanan pasar menawarkan dua pengaruh yang berlawanan. Kenaikan yield SBN meningkatkan tuntutan imbal hasil investor sehingga sukuk berkupon rendah kehilangan daya saing. 

“Sebaliknya, ST017 menawarkan pembayaran imbalan bulanan, batas imbalan minimum, dan kepastian pelunasan pokok oleh negara sesuai ketentuan, yang menarik bagi investor defensif,” ucapnya. 

Kelemahannya, kata Syafruddin, ST017 tidak dapat diperdagangkan dan hanya menyediakan pencairan awal terbatas. Pemerintah perlu menilai keberhasilan melalui jumlah investor baru, komposisi dana yang masuk, biaya pembiayaan, serta persistensi permintaan sepanjang masa penawaran. 

Di sisi lain, Chief Operating Officer Bareksa Ni Putu Kurniasari memperkirakan minat investor terhadap ST017 sangat bergantung pada besaran kupon yang ditawarkan pada surat berharga ini. 

“Di tengah ketidakpastian seperti saat ini, investor cenderung berinvestasi ke aset yang lebih likuid. Sementara Sukuk Tabungan dikunci, walaupun ada early redemption, tetap minimal harus memegang satu tahun,” jelasnya. 

Menurut Ni Putu, untuk membayar risiko tersebut investor akan cenderung meminta kupon tinggi saat ini. Bareksa memperkirakan imbalan minimal ST017T2 sebesar 6,8%–6,9% dan ST017T4 sebesar 7%–7,1% per tahun.

Sementara itu, Syafruddin bilang dengan mempertimbangkan fitur imbalan mengambang berbatas minimum serta keterbatasan likuiditas kisaran indikatif yang layak diuji ialah 6,80%–7,00% untuk ST017 tenor dua tahun dan 7,00%–7,20% untuk empat tahun.

“Jika kupon terlalu rendah dapat melemahkan penjualan. Namun di sisi lain, ketika kupon terlalu tinggi menaikkan biaya fiskal dan berpotensi menarik dana dari perbankan,” kata Syafruddin. 

Syafruddin menyarankan sebaiknya pemerintah menguji permintaan pada beberapa tingkat imbalan, membandingkan biaya pendanaan setara tenor dan menjelaskan secara terbuka dasar penetapannya. 

Menurutnya, investor aktif mungkin memilih SBN sekunder, sementara penabung konservatif dapat lebih menyukai ST017. Dus, pemerintah harus membandingkan imbalan bersih pada tenor sepadan dan menetapkan kupon yang kompetitif tanpa membebani APBN. 

Baca Juga: Kasus Dugaan Penyadapan Bikin Rupiah Tertekan ke Level Rp 18.168 Saat Dolar Melemah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News