KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) masih bertahan di level tinggi. Padahal, bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), menahan suku bunga acuannya pada kisaran 3,5%–3,75% pada Maret 2026. Belakangan yield SBN memang cenderung menanjak naik. Di awal tahun pada 2 Januari 2026, yield SBN tenor 10 tahun berada di level 6,04%. Kini per 25 Maret 2026, yield SBN 10 tahun berada di level 6,84% atau mendekati 7%. Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan, secara teori sikap The Fed yang cenderung tidak agresif menaikkan suku bunga seharusnya menjadi katalis positif bagi obligasi emerging markets, termasuk Indonesia.
Yield SBN Mendekati 7%, Tekanan Risiko Domestik lebih Dominan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) masih bertahan di level tinggi. Padahal, bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), menahan suku bunga acuannya pada kisaran 3,5%–3,75% pada Maret 2026. Belakangan yield SBN memang cenderung menanjak naik. Di awal tahun pada 2 Januari 2026, yield SBN tenor 10 tahun berada di level 6,04%. Kini per 25 Maret 2026, yield SBN 10 tahun berada di level 6,84% atau mendekati 7%. Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan, secara teori sikap The Fed yang cenderung tidak agresif menaikkan suku bunga seharusnya menjadi katalis positif bagi obligasi emerging markets, termasuk Indonesia.
TAG: