Yield SBN Meningkat, Persaingan Dana BPR Kian Ketat



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dan meningkatnya imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) berpotensi memperketat persaingan penghimpunan dana di industri perbankan, termasuk bagi bank perekonomian rakyat (BPR).

Kondisi tersebut berisiko meningkatkan biaya dana (cost of fund/CoF) dan menekan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perbankan apabila lembaga keuangan harus menawarkan bunga simpanan yang lebih tinggi untuk mempertahankan dana nasabah.

Baca Juga: IPOT Soroti Tantangan Generasi Muda di Era AI dan Ancaman Digital


Seiring kenaikan BI Rate menjadi 5,5%, imbal hasil instrumen investasi berbasis surat utang pemerintah juga ikut meningkat.

Mengutip Trading Economics, SBN tenor tiga bulan menawarkan imbal hasil sekitar 6,8%, sementara tenor enam bulan mencapai 6,94%.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo) Tedy Alamsyah mengatakan, persaingan penghimpunan dana kini tidak hanya berasal dari sesama perbankan, tetapi juga dari berbagai instrumen investasi yang menawarkan tingkat imbal hasil lebih menarik.

"Persaingan penghimpunan dana BPR dengan berbagai produk investasi tentunya akan berpengaruh terhadap nasabah yang semakin well literate terhadap produk investasi, baik di bank maupun nonbank yang menawarkan yield lebih tinggi," ujar Tedy kepada Kontan, Kamis (11/6/2026).

Baca Juga: Kredit Amar Bank Terdorong Perluasan Jangkauan Pasar

Meski demikian, Tedy menilai dampak terhadap penghimpunan dana BPR tidak akan terlalu signifikan.

Pasalnya, sebagian besar nasabah tabungan dan deposito BPR umumnya tidak hanya mempertimbangkan tingkat imbal hasil, tetapi juga faktor keamanan dana serta kebutuhan penyimpanan dana jangka menengah.

Menurutnya, BPR masih memiliki daya tarik tersendiri karena mampu menawarkan bunga simpanan yang relatif lebih tinggi dibandingkan bank umum, namun tetap berada dalam batas suku bunga penjaminan yang ditetapkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Kendati demikian, Tedy mengakui kenaikan BI Rate berpotensi mendorong penyesuaian suku bunga simpanan di industri BPR.

Penyesuaian tersebut akan dilakukan secara selektif oleh masing-masing bank sesuai karakteristik nasabah, kondisi likuiditas, dan kebutuhan bisnis.

Baca Juga: Bidik UMKM dan Ritel, Krom Bank Optimistis Kredit Tetap Tumbuh Positif

Ia memperkirakan, respons setiap BPR akan berbeda dalam menghadapi persaingan dana yang semakin ketat. Bahkan, apabila tekanan eksternal terus meningkat, sejumlah BPR berpotensi melakukan penyesuaian target bisnis yang telah ditetapkan sebelumnya.

"Strategi yang ditempuh tentu akan berbeda-beda sesuai karakteristik dan segmen yang dilayani masing-masing BPR. Jika diperlukan, BPR juga dapat melakukan penyesuaian terhadap rencana bisnis bank (RBB) untuk mengantisipasi tantangan yang ada," ujar Tedy.

Di tengah tren kenaikan suku bunga dan meningkatnya alternatif investasi berimbal hasil tinggi, kemampuan menjaga likuiditas sekaligus mempertahankan profitabilitas akan menjadi tantangan utama bagi industri BPR dalam beberapa waktu ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News