KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) mulai memberi tekanan ke pasar obligasi korporasi. Kondisi ini membuat emiten diperkirakan akan lebih selektif menerbitkan surat utang baru pada semester II-2026, di tengah potensi biaya dana yang semakin mahal. Tekanan tersebut muncul setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Kenaikan bunga acuan dinilai berpotensi mendorong kenaikan yield dan kupon obligasi korporasi baru. Chief Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Suhindarto, mengatakan penerbitan obligasi korporasi pada semester II-2026 masih berpotensi tumbuh. Namun, volumenya diperkirakan tidak akan seramai tahun sebelumnya karena emiten mulai berhitung dengan kenaikan biaya pendanaan.
Yield SBN Naik, Emiten Mulai Tahan Penerbitan Obligasi Baru
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) mulai memberi tekanan ke pasar obligasi korporasi. Kondisi ini membuat emiten diperkirakan akan lebih selektif menerbitkan surat utang baru pada semester II-2026, di tengah potensi biaya dana yang semakin mahal. Tekanan tersebut muncul setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Kenaikan bunga acuan dinilai berpotensi mendorong kenaikan yield dan kupon obligasi korporasi baru. Chief Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Suhindarto, mengatakan penerbitan obligasi korporasi pada semester II-2026 masih berpotensi tumbuh. Namun, volumenya diperkirakan tidak akan seramai tahun sebelumnya karena emiten mulai berhitung dengan kenaikan biaya pendanaan.
TAG: