Yield SBN Sekunder Lebih Tinggi, Penjualan SBR015 Hadapi Persaingan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penjualan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel seri SBR015 menghadapi persaingan dari obligasi pemerintah yang tersedia di pasar sekunder.

Tingkat imbal hasil SBN di pasar sekunder yang relatif tinggi membuat investor memiliki alternatif investasi selain SBR015.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, tingginya yield SBN di pasar sekunder meningkatkan opportunity cost bagi investor yang mempertimbangkan pembelian SBR015.


"Opportunity cost-nya meningkat karena yield SBN di pasar sekunder juga cukup tinggi," kata Josua kepada Kontan, Senin (5/10/2026).

Baca Juga: Menjelang MotoGP Mandalika 2026, Ini Saham Transportasi yang Disorot Analis

Sebagai perbandingan, yield SBN tenor lima tahun di pasar sekunder pada pertengahan September berada di sekitar 7,05%, sementara yield tenor 10 tahun sekitar 7,17%.

Di sisi lain, SBR015 menawarkan kupon awal 6,75% untuk tenor dua tahun dan 6,85% untuk tenor empat tahun.

Selama sepakan, berdasarkan transaksi di mitra distribusi Bibit per Senin (5/10/2026), penjualan SBR015 telah mencapai sekitar Rp 2,79 triliun. Angka tersebut terdiri dari penjualan tenor dua tahun sekitar Rp 2,49 triliun atau 16,6% dari kuota Rp 15 triliun dan tenor empat tahun sekitar Rp 300 miliar atau 6% dari kuota Rp 5 triliun.

Menurut Josua, investor perlu membandingkan potensi imbal hasil serta karakteristik masing-masing instrumen. SBR015 memiliki skema investasi yang berbeda dengan SBN di pasar sekunder, terutama dari sisi likuiditas.

SBR015 tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Sementara itu, SBN yang sudah beredar dapat diperjualbelikan sebelum jatuh tempo sehingga investor memiliki opsi untuk mencairkan investasinya lebih awal.

Tak hanya itu, perubahan harga SBN di pasar sekunder juga membuka peluang bagi investor untuk memperoleh capital gain ketika harga obligasi naik seiring dengan penurunan yield.

Baca Juga: Beban Bunga Utang Korporasi Naik, Obligasi Jadi Pilihan di Tengah IPO yang Sepi

"Investor yang mengutamakan fleksibilitas tentu akan mendapatkan keuntungan dari obligasi yang bisa diperdagangkan di pasar sekunder karena ada peluang mendapatkan capital gain," ujar Josua.

Karena itu, investor perlu mencermati imbal hasil hingga jatuh tempo, likuiditas, serta peluang capital gain sebelum menentukan instrumen yang dipilih.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News