Yield SBN Tembus 7,2% Usai BI Rate Naik, Ini Sinyal Risiko Pasar RI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) kembali mengalami lonjakan di pekan ini. Kondisi ini membuntuti kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,75% pada 18 Juni 2026.

Sejalan dengan itu, yield SBN tenor 10 tahun saat ini berada di kisaran tinggi, yakni di level 7,218% pada Selasa (23/6). Nilai ini meningkat dari level yield sepekan lalu yang masih di kisaran 6,8% pada 17 Juni 2026.

Umumnya, kenaikan suku bunga acuan memang akan diikuti dengan kenaikan yield SBN. Kendati demikian, Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengatakan bahwa kenaikan yield SBN tenor 10 tahun saat ini tidak dapat dibaca sebagai efek sementara dari kenaikan BI Rate semata.


Baca Juga: Menanti Hasil MSCI, Rupiah Melemah ke Rp 17.859 per Dolar AS

Menurutnya, kenaikan BI Rate secara agresif sebesar 100 bps dalam kurun waktu satu bulan terakhir ini memang mendorong penyesuaian harga obligasi karena pasar menaikkan ekspektasi biaya dana. Akan tetapi, tekanan yield juga mencerminkan kenaikan premi risiko Indonesia.

Meski BI Rate dinaikkan demi menjaga stabilitas nilai tukar, nyatanya rupiah masih terus melanjutkan tren pelemahan, yakni bertengger di Rp 17.859 per dolar AS pada Selasa (23/6). Selain itu, Credit Default Swap (CDS) Indonesia juga naik, volatilitas kurs meningkat, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun melemah tajam. 

Kombinasi ini menunjukkan bahwa investor sedang menilai ulang risiko makro dan risiko kebijakan Indonesia. Kata Syafruddin, tekanan eksternal dari ekspektasi kenaikan suku bunga AS memperkuat tekanan itu.

“Karena itu, tren yield SBN masih berpotensi bertahan tinggi selama dolar kuat, BI mempertahankan kebijakan higher for longer, dan pemerintah belum berhasil memulihkan kepercayaan pasar,” ungkap Syafruddin saat dihubungi Kontan, Selasa (23/6/2026).

Di tengah kondisi saat ini dan ekspektasi BI yang akan mempertahankan suku bunga acuan pada level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer), Syafruddin memproyeksi yield SBN 10 tahun berpotensi bergerak di kisaran 7,25%-7,60% hingga akhir tahun 2026.

Jika tekanan rupiah berlanjut, The Fed tetap hawkish, dan isu tata kelola Danantara serta Pasal 50A dalam revisi UU P2SK yang mengatur penerbitan surat utang khusus oleh Danantara, termasuk Patriot Bond dan Merah Putih Bond, akan menekan persepsi investor, maka puncak yield dapat mendekati 7,75%-8,00%. 

“Level di atas 8% akan menjadi sinyal serius bahwa pasar tidak lagi hanya merespons suku bunga, tetapi juga menghukum risiko kredibilitas kebijakan,” pungkasnya.

Baca Juga: Waspada Penipuan Investasi Drama China, YUDIA - Sensenowai Dihentikan, Ini Daftarnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News