Yield SBN Tembus 7,4%, Investor Bisa Mulai Akumulasi Bertahap



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun ke atas level 7% mulai menarik perhatian investor. Kondisi tersebut membuka peluang bagi investor yang ingin mengoleksi obligasi dengan harga murah dan tingkat imbal hasil yang lebih menarik.

Hingga Rabu (10/6/2026), yield SBN tenor 10 tahun naik menjadi 7,4%. Level ini jauh lebih tinggi ketimbang pada awal tahun yang masih di kisaran 6,0%. Level tersebut tidak jauh berbeda dengan yield SBN tenor lima tahun di level 7,41%. 

Head of Investment Specialist Sinarmas Asset Management, Domingus Sinarta Ginting, mengatakan level yield SBN saat ini sudah jauh lebih menarik dibandingkan beberapa tahun terakhir. Maka, bisa dipertimbangkan investor untuk melakukan akumulasi bertahap.


Baca Juga: Bitcoin Tertekan di Dekat US$ 60.000, Akankah Rebound atau Jatuh Lagi?

"Bagi investor dengan horizon investasi menengah hingga panjang, level yield di atas 7% mulai menawarkan peluang yang cukup menarik untuk melakukan akumulasi secara bertahap," ujar Domingus kepada Kontan, Selasa (9/6/2026).

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa volatilitas pasar masih relatif tinggi dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah belum sepenuhnya mereda. Oleh karena itu, strategi yang lebih bijak adalah melakukan pembelian secara bertahap (staggered entry) dibandingkan masuk sekaligus dalam satu waktu.

Menurutnya, pendekatan tersebut memungkinkan investor memanfaatkan level yield yang menarik saat ini sekaligus mengantisipasi potensi kenaikan yield lebih lanjut dalam jangka pendek.

Domingus menjelaskan, kenaikan yield SBN tenor 10 tahun saat ini disebabkan kombinasi faktor domestik dan global. Dari dalam negeri, pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor dominan karena mendorong Bank Indonesia (BI) mempertahankan kebijakan moneter yang relatif ketat guna menjaga stabilitas nilai tukar. Ini sejalan dengan langkah BI yang tiba-tiba menaikkan BI-Rate ke level 5,5% pada Selasa (9/10).

Selain itu, pasar juga masih mencermati perkembangan fiskal pemerintah, terutama terkait kebutuhan pembiayaan dan realisasi penerimaan negara.

Sementara dari sisi eksternal, ketidakpastian geopolitik dan kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi global tetap tinggi. Kondisi tersebut membuat ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral utama dunia, The Fed, menjadi lebih terbatas.

"Kombinasi faktor-faktor tersebut menyebabkan investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi untuk berinvestasi pada instrumen jangka panjang. Kenaikan yield pada dasarnya mencerminkan bahwa investor menginginkan kompensasi risiko yang lebih tinggi di tengah meningkatnya ketidakpastian," imbuhnya.

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp 17.965 per Dolar AS Rabu (10/6) Siang, Ini Sentimen Pendorongnya

Ke depan, pergerakan yield SBN masih akan sangat dipengaruhi oleh arah rupiah, harga minyak dunia, dan perkembangan sentimen global.

Domingus memperkirakan, dalam skenario dasar, yield SBN tenor 10 tahun berpotensi berada di kisaran 7,4% hingga 7,5% pada akhir tahun 2026.

Sementara dalam skenario yang lebih menantang, apabila tekanan terhadap rupiah berlanjut, harga minyak tetap tinggi, dan sentimen global memburuk, yield berpotensi naik ke kisaran 7,5% hingga 7,75%.

Di sisi lain, skenario yang lebih optimistis masih terbuka apabila ketegangan geopolitik mereda, harga minyak turun lebih cepat, inflasi global melandai, dan rupiah kembali stabil. Dalam kondisi tersebut, yield SBN berpotensi turun kembali ke kisaran 6,5% hingga 7,0%. 

"Namun untuk saat ini pasar masih cenderung menempatkan probabilitas yang lebih besar pada skenario yield bertahan di atas 7%," tutup Domingus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News