KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap berjalan sesuai dengan rencana pemerintah di tengah kenaikan imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) yang menembus level 7,7%. Menteri Keuangan, Suahasil Nazara mengatakan, pemerintah tetap berkomitmen menjalankan pembiayaan sebagaimana telah ditetapkan dalam APBN. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga kredibilitas anggaran negara.
Menurutnya, pembiayaan yang telah direncanakan pemerintah harus dituntaskan karena menjadi salah satu sumber pendanaan untuk memenuhi kebutuhan belanja negara. "Pembiayaan kita sampaikan di APBN dan kita jalankan sehingga kemudian bisa menciptakan APBN yang kredibel," ujar Suahasil kepada awak media di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Baca Juga: Harga Minyak dan Rupiah Tekan APBN, Tambahan Beban Anggaran Bakal Membengkak Dia menjelaskan, pembiayaan negara pada akhirnya digunakan untuk mendukung pelaksanaan belanja pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah perlu memastikan kebutuhan pembiayaan tetap terpenuhi agar berbagai program dan fungsi APBN dapat berjalan. Di sisi lain, Suahasil menekankan pentingnya fleksibilitas belanja negara dalam menghadapi perkembangan situasi ekonomi, baik di dalam maupun luar negeri. Menurutnya, kondisi global saat ini diwarnai sejumlah tantangan, mulai dari volatilitas harga komoditas hingga kenaikan suku bunga di berbagai negara. "Belanja negara yang tadi saya sampaikan, selalu kita rancang supaya belanja negara itu fleksibel merespons situasi yang berkembang," katanya. Suahasil menambahkan, APBN harus mampu menjalankan berbagai fungsi sekaligus, yakni mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan, serta memberikan perlindungan kepada masyarakat.
Baca Juga: Penjualan SBR015 Tembus Rp 17 Triliun untuk Biayai Kebutuhan APBN 2026 Namun, fungsi tersebut harus tetap ditopang oleh kepercayaan terhadap pengelolaan anggaran negara. "Situasi yang berkembang saat ini termasuk kondisi global, termasuk harga komoditas yang volatil, termasuk suku bunga yang sedang meningkat di berbagai macam negara. Jadi APBN memang harus fleksibel dalam konteks seperti itu," imbuh Suahasil. Adapun tekanan di pasar obligasi terlihat dari kenaikan yield SBN tenor 10 tahun yang sempat menyentuh 7,70% pada Rabu (28/10/2026).
Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 19 Mei 2020 atau lebih dari enam tahun terakhir. Pada Kamis (29/10/2026), yield SBN tenor 10 tahun sedikit melandai ke level 7,64%. Meski demikian, imbal hasil tersebut masih mencatat kenaikan sekitar 2,3% dalam sepekan dan 7,2% dalam sebulan terakhir.
Baca Juga: Kemenkeu Optimistis Defisit APBN Terjaga, Meski Harga Minyak Naik dan Rupiah Melemah Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News