Yield Sedang Tinggi, JP Morgan AM: Kini Saatnya Beli Instrumen Surat Utang



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. JP Morgan Asset Management (AM) menyebut, surat utang atau obligasi kini menjadi instrumen investasi yang layak dilirik.

Tingkat imbal hasil (yield) yang luar biasa besar saat ini yang mungkin hanya terjadi sekali dalam satu generasi di pasar obligasi menjadi daya tarik.

"Kini saatnya untuk membeli instrumen utang. Di Amerika Serikat, potensi imbal hasil yang ditawarkan bisa mencapai 8% dalam satu tahun ke depan," ujar Bob Michele, kepala pendapatan tetap global di J.P. Morgan Asset Management, Selasa (27/10/2026), seperti dilansir Reuters.


Baca Juga: Laba Lampaui Proyeksi, Kinerja Freeport Tertolong Lonjakan Harga Tembaga

Pasar obligasi telah bangkit kembali setelah mengalami aksi jual pada bulan ini dan bulan sebelumnya, terutama pada surat utang pemerintah di negara-negara maju:

"Kami memperkirakan suku bunga acuan The Fed (Fed funds rate) dan kurva imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) akan bertemu di titik yang sama (sekitar 4,5%)," kata Michele kepada para wartawan di Singapura.

Michele bilang, biasanya, pada akhir siklus kenaikan suku bunga, kurva imbal hasil akan cenderung mendatar (flat), sehingga masih ada ruang yang cukup lebar bagi imbal hasil untuk bergerak dari posisinya saat ini.

"Pendapatan dari selisih suku bunga (carry) dan kenaikan harga obligasi diperkirakan akan memberikan imbal hasil sebesar 7% hingga 8% di pasar AS selama 12 bulan ke depan," ungkapnya.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun berada di kisaran 4,99% pada hari Selasa, setelah sempat bertahan di atas 5% selama beberapa minggu terakhir.

Para investor memperkirakan suku bunga acuan The Fed akan tetap berada di kisaran 3,75% hingga 4% saat Federal Reserve mengumumkan keputusan suku bunganya pada Rabu pekan ini.

Kata Michele, imbal hasil yang tinggi kini tersedia di mana-mana. "Saat kami mengamati kurva imbal hasil US Treasury beberapa minggu lalu—ketika angkanya pertama kali menembus 5%—bagi kami, sinyal untuk membeli muncul saat imbal hasil riil di AS mencapai 3%. Terakhir kali kita melihat kondisi seperti ini adalah pada tahun 2002. Jadi, setelah hampir 25 tahun, ini merupakan peluang emas untuk melakukan pembelian," ujarnya.

Menurut Michele, Jepang, Australia, obligasi korporasi dengan peringkat layak investasi (investment-grade), serta surat utang pemerintah di negara-negara berkembang (emerging markets) termasuk di antara pilihan yang paling menarik.

Ia menambahkan, semua orang merasakan bahwa saat ini terdapat tingkat imbal hasil di pasar obligasi yang sangat besar—sesuatu yang mungkin hanya terjadi sekali dalam satu generasi.

Michele mengatakan, melihat siklus belanja modal (capex) global saat ini, kemungkinan terjadinya resesi sangatlah kecil. Artinya, setiap pelebaran selisih imbal hasil kredit (credit spread) merupakan peluang untuk melakukan pembelian.

Baca Juga: Serangan Houthi ke Kilang Minyak Arab Saudi, Harga Brent Tembus US$ 115 per Barel