Yield SRBI dan SBN Turun, Seberapa Menarik Aset Rupiah bagi Investor Asing?



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Penurunan imbal hasil Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) belum serta-merta mengurangi minat investor asing terhadap aset berbasis rupiah. Daya tarik pasar domestik masih terbuka, terutama jika selisih imbal hasil dengan aset dolar AS tetap kompetitif dan pergerakan rupiah terjaga.

Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz mengatakan, investor asing tidak hanya melihat level yield secara nominal dalam menentukan keputusan investasi. Investor global lebih mempertimbangkan risk adjusted return, termasuk selisih imbal hasil aset Indonesia terhadap instrumen dolar Amerika Serikat (AS), ekspektasi pergerakan rupiah, serta biaya hedging.

“Selama yield differential terhadap AS masih menarik dan rupiah relatif stabil, penurunan yield SRBI secara gradual belum tentu langsung menyebabkan outflow,” ujar Irman kepada Kontan, Selasa (25/8/2026).


Menurut Irman, masih terdapat ruang bagi yield SRBI untuk melandai seiring dengan berkurangnya intensitas penyerapan likuiditas oleh Bank Indonesia (BI). Langkah tersebut sejalan dengan bauran kebijakan BI yang mulai memberikan ruang lebih besar bagi likuiditas domestik, sementara BI Rate tetap dipertahankan untuk menjaga stabilitas rupiah.

Baca Juga: Yield SRBI dan SBN Melandai, Asing Masih Masuk dan Rupiah Berpeluang Menguat

Meski demikian, ruang penurunan yield SRBI tidak tidak terbatas. Jika yield SRBI turun terlalu cepat sementara yield US Treasury (UST) masih tinggi atau tekanan terhadap rupiah meningkat, daya tarik aset rupiah bagi investor asing dapat berkurang.

“Jika yield domestik turun sementara UST tetap tinggi dan dolar menguat, maka yield differential menyempit dan risiko outflow akan meningkat,” jelasnya.

Sementara itu, pergerakan yield SBN dinilai lebih kompleks. Dalam jangka pendek, yield SBN masih berpotensi melandai apabila yield UST turun, rupiah stabil, inflasi terkendali dan arus modal asing membaik.

Namun, Irman melihat tekanan struktural terhadap yield SBN masih berasal dari besarnya kebutuhan pembiayaan pemerintah dan pasokan obligasi. Karena itu, ruang bagi rally SBN secara agresif dinilai masih terbatas.

Irman memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun berada di sekitar 7,2% pada 2027. Menurutnya, arah yield SBN ke depan akan ditentukan oleh kombinasi arah kebijakan The Federal Reserve dan yield UST, pergerakan rupiah, inflasi domestik, kebijakan likuiditas BI, serta kondisi supply-demand SBN.

Berbeda dengan SBN, BI memiliki kontrol yang lebih langsung terhadap pricing dan supply SRBI. Namun, SRBI tetap perlu menawarkan tingkat imbal hasil yang kompetitif terhadap suku bunga global karena instrumen tersebut juga berperan dalam menarik portfolio inflow dan menjaga stabilitas rupiah.

Lebih lanjut, Irman menilai penurunan yield SRBI maupun SBN tidak otomatis membuat arus modal asing melemah. Jika penurunan yield domestik terjadi bersamaan dengan penurunan yield global, khususnya UST, maka selisih imbal hasil aset Indonesia terhadap AS masih dapat terjaga.

Baca Juga: Yield SRBI dan SBN Berpeluang Turun, Rupiah dan Asing Jadi Penentu

Selain itu, stabilitas rupiah juga menjadi faktor penting. Rupiah yang lebih stabil akan menurunkan risiko yang harus ditanggung investor asing sehingga aset rupiah tetap menarik meski yield nominalnya lebih rendah.

Sebaliknya, apabila yield domestik turun ketika yield AS tetap tinggi dan dolar AS menguat, daya tarik aset Indonesia akan menurun. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko outflow dan menekan rupiah.

Irman menambahkan, prospek arus modal asing menjadi semakin penting karena transaksi berjalan Indonesia tahun ini cenderung melebar. Dengan kondisi tersebut, Indonesia membutuhkan surplus pada neraca modal dan finansial untuk membantu membiayai defisit transaksi berjalan.

Jika arus modal asing meningkat, pasokan valuta asing di dalam negeri akan bertambah sehingga membantu menjaga stabilitas rupiah, memperkuat neraca pembayaran dan mengurangi kebutuhan intervensi BI.

Sebaliknya, jika portfolio inflow melemah ketika defisit transaksi berjalan masih cukup besar, tekanan terhadap rupiah dan cadangan devisa dapat meningkat.

Karena itu, Irman menilai tantangan BI saat ini adalah mencari keseimbangan antara menurunkan cost of liquidity domestik dan tetap menjaga daya tarik aset rupiah bagi investor global.

Hal tersebut juga menjadi alasan BI dinilai perlu berhati-hati dalam menurunkan yield instrumen moneternya secara terlalu cepat, meski ruang pelonggaran likuiditas domestik masih terbuka.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News