KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai penurunan yield Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi salah satu pertimbangan bagi perusahaan asuransi umum dalam menentukan strategi investasi. Meski demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta mendorong perusahaan mengurangi penempatan investasi pada SRBI. Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengungkapkan penurunan
yield SRBI memang menjadi salah satu pertimbangan industri asuransi umum dalam berinvestasi. Namun, keputusannya tetap mempertimbangkan faktor lain, seperti keamanan, likuiditas, durasi investasi, dan kebutuhan pembayaran klaim.
Baca Juga: BCA Catat Pembiayaan Kendaraan Listrik Tumbuh 25%, Minat Masyarakat Mulai Bergeser Oleh karena itu, tren imbal hasil SRBI yang melandai dinilai akan mendorong perusahaan asuransi umum untuk melakukan optimalisasi atau
rebalancing portfolio. Melalui upaya ini, perusahaan asuransi akan membandingkan imbal hasil SRBI dengan Surat Berharga Negara (SBN), deposito, obligasi korporasi, reksa dana maupun instrumen lainnya dengan mempertimbangkan risiko dan kebutuhan likuiditas. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per semester I-2026 total investasi asuransi umum masih tumbuh sekitar 5,8%. Namun, hasil investasi turun 5,6% dan
return of investment turun menjadi 5,5%. "Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya perusahaan terus mengoptimalkan penempatan investasinya ketika tingkat imbal hasil di pasar berubah," ujarnya kepada Kontan, Senin (28/9/26). Namun, penurunan hasil investasi tersebut tidak dapat dikaitkan secara langsung dengan SRBI karena saat ini data investasi SRBI saat belum tersedia secara terpisah oleh AAUI. Namun, porsi investasi industri asuransi umum masih didominasi oleh kelompok surat berharga dengan nilai mencapai 38,6%. Budi mengatakan, besarnya porsi surat berharga menunjukkan instrumen tersebut menjadi bagian penting dalam portofolio investasi perusahaan asuransi umum. Namun, perubahan tingkat imbal hasil dapat mendorong perusahaan melakukan penyesuaian penempatan aset.
Ke depannya, Budi menilai SRBI masih bisa menjadi salah satu alternatif dalam pengelolaan portofolio dan likuiditas perusahaan asuransi umum. Besar kecilnya alokasi akan bergantung pada perbandingan yield dengan instrumen lain, arah suku bunga, kondisi pasar keuangan serta kebutuhan arus kas masing-masing perusahaan. Menurutnya, aspek likuiditas menjadi perhatian penting bagi asuransi umum karena karakter kewajibannya relatif lebih pendek dan kebutuhan pembayaran klaim dapat terjadi setiap saat. Selain itu, keputusan investasi tidak semata-mata mencari yield tertinggi saja, tetapi mencari keseimbangan antara return, risiko, likuiditas, dan kesesuaian aset dengan kewajiban.
Baca Juga: BI Sebut Penggunaan QRIS Makin Masif, Pertumbuhan Uang Kartal Melambat Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News