KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penurunan imbal hasil atau yield Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan perusahaan asuransi umum dalam mengelola portofolio investasinya. Namun, kondisi tersebut belum serta-merta membuat industri mengurangi penempatan dana pada instrumen tersebut. Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan mengatakan, perubahan yield SRBI memang menjadi salah satu pertimbangan perusahaan asuransi umum dalam menentukan strategi investasi. Meski demikian, keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada tingkat imbal hasil. Perusahaan juga mempertimbangkan aspek keamanan, likuiditas, durasi investasi, serta kebutuhan pembayaran klaim.
Menurut Budi, tren penurunan imbal hasil SRBI dapat mendorong perusahaan asuransi umum melakukan optimalisasi atau rebalancing portofolio investasi.
Baca Juga: Jamkrida Sumbar Soroti Perang Tarif di Industri Penjaminan Dalam proses tersebut, perusahaan akan membandingkan tingkat imbal hasil SRBI dengan sejumlah instrumen lain, seperti Surat Berharga Negara (SBN), deposito, obligasi korporasi, reksa dana, maupun instrumen investasi lainnya. Perbandingan dilakukan dengan tetap mempertimbangkan tingkat risiko dan kebutuhan likuiditas perusahaan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada semester I-2026 total investasi industri asuransi umum masih tumbuh sekitar 5,8%. Namun, hasil investasi tercatat turun 5,6%, sedangkan return on investment (ROI) turun menjadi 5,5%. "Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya perusahaan terus mengoptimalkan penempatan investasinya ketika tingkat imbal hasil di pasar berubah," ujarnya kepada Kontan, Senin (28/9/26). Meski hasil investasi industri asuransi umum mengalami penurunan, Budi menegaskan kondisi tersebut belum dapat dikaitkan secara langsung dengan SRBI. Pasalnya, data mengenai penempatan investasi pada SRBI saat ini belum tersedia secara terpisah di AAUI. Di sisi lain, porsi investasi industri asuransi umum masih didominasi kelompok surat berharga dengan nilai mencapai 38,6%.
Baca Juga: Asuransi Perjalanan Perkuat Strategi di Tengah Kenaikan Biaya Penerbangan Budi mengatakan, besarnya porsi surat berharga menunjukkan bahwa instrumen tersebut masih menjadi bagian penting dalam portofolio investasi perusahaan asuransi umum. Namun, perubahan tingkat imbal hasil di pasar dapat mendorong perusahaan menyesuaikan kembali penempatan aset.
Ke depan, Budi menilai SRBI masih dapat menjadi salah satu alternatif dalam pengelolaan portofolio dan likuiditas perusahaan asuransi umum. Besar kecilnya alokasi investasi pada SRBI akan bergantung pada perbandingan yield dengan instrumen lain, arah suku bunga, kondisi pasar keuangan, serta kebutuhan arus kas masing-masing perusahaan. Menurutnya, aspek likuiditas menjadi perhatian penting bagi perusahaan asuransi umum karena karakter kewajibannya relatif lebih pendek dan kebutuhan pembayaran klaim dapat terjadi sewaktu-waktu. Selain itu, keputusan investasi perusahaan asuransi umum tidak semata-mata ditujukan untuk mengejar yield tertinggi. Perusahaan perlu menjaga keseimbangan antara tingkat imbal hasil, risiko, likuiditas, serta kesesuaian antara aset dan kewajiban. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News