Yield SUN Masih Tinggi di Tengah Penurunan US Treasury, Cek Prospeknya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) terpantau masih tinggi akibat dinamika risiko domestik, meskipun imbal hasil US Treasury mencatat penurunan.

Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas Ridwan Adi Gunawan menyoroti kondisi pasar obligasi domestik yang masih tertekan, di mana imbal hasil SUN tetap tertahan di level tinggi meski yield US Treasury (UST) sedang turun.

Di pasar global, UST bertenor 10 tahun tercatat merosot 7,0 basis poin menjadi 4,98%.


Hal ini didorong oleh naiknya permintaan terhadap aset aman (safe haven) menyusul aksi jual di bursa saham serta meredanya ekspektasi inflasi seiring turunnya harga minyak mentah.   

Baca Juga: IHSG Turun 0,77% ke 5.058 Awal Perdagangan Jumat (30/10), ISAT, BRPT, MDKA Rontok

Namun, kondisi di dalam negeri bergerak berlawanan. Walaupun yield acuan SUN 10 tahun sedikit melandai ke 7,62% dari sebelumnya 7,70%, yield untuk tenor 20 tahun justru merangkak naik ke posisi 7,70% yang mencerminkan penyesuaian pada premi risiko jangka panjang.   

"Kurva yang lebih luas terus bergeser lebih tinggi, menunjukkan bahwa penyesuaian ulang harga risiko domestik terus berlanjut meskipun imbal hasil UST lebih rendah dan rupiah stabil," papar Ridwan dalam risetnya, (30/10/2026).  

Dari sisi nilai tukar, rupiah menunjukkan pemulihan moderat dengan menguat 0,28% ke posisi Rp 18.132 per dolar AS pada perdagangan Kamis (29/10/2026), setelah sempat mengalami depresiasi.

"Pergerakan ini menawarkan sedikit kelegaan dalam jangka pendek, meskipun mata uang tersebut tetap rentan terhadap tekanan imbal hasil eksternal dan aliran modal yang bergejolak," ungkap Ridwan.   

Sementara itu, aktivitas perdagangan obligasi dari sisi nilai transaksi dipimpin oleh seri FR0110 sebesar Rp 4,86 triliun, disusul oleh PBS030 senilai Rp 1,95 triliun, dan FR0109 sebesar Rp 1,90 triliun.

Adapun berdasarkan frekuensi transaksinya, seri PBS030, FR0111, FR0107, FR0110, dan FR0102 menjadi seri yang paling aktif ditransaksikan oleh investor.

Baca Juga: Simak Prospek dan Rekomendasi Saham Triputra Agro Persada (TAPG)

Menilik perkembangan pasar global dan domestik tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun diproyeksikan akan diperdagangkan pada kisaran 7,45% hingga 7,60% pada perdagangan hari ini, Jumat (30/10/2026).

Sebagai pilihan instrumen, Ridwan menjelaskan, seri obligasi yang menarik untuk diperdagangkan meliputi FR0090, FR0104, PBS040, FR0109, dan FR0110.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News