Yield SUN Tembus 7,66%, Pembiayaan Utang Pemerintah Makin Berat



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 di tengah penurunan nominal penyerapan lelang dan kenaikan imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN).

Tekanan tersebut tercermin dalam lelang SUN pada 27 Oktober 2026. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), nominal SUN yang dimenangkan pemerintah mencapai Rp 20,65 triliun, turun dibandingkan Rp 35 triliun pada lelang 13 Oktober 2026.

Penawaran yang masuk juga menurun, sementara yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan meningkat pada sejumlah seri, terutama tenor menengah hingga panjang. Diketahui, yield SUN tenor 10 tahun saat ini Rabu (28/10) bahkan sudah tembus 7,66% atau naik 2,8% sepekan terakhir. Pun yield SUN tenor 30 tahun bertengger di 7,45% atau naik 2% dalam sepekan.


Baca Juga: Pelemahan Rupiah Memperburuk Sentimen Pasar, Risiko Investasi Turut Meningkat

Ekonom senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan, keputusan pemerintah yang hanya memenangkan penawaran sebesar Rp 20,65 triliun, jauh di bawah target Rp 30 triliun, ini bisa jadi karena Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencoba mengatur penerbitan agar sesuai dengan kebutuhan. Pemerintah perlu memperhitungkan kondisi pasar yang berpotensi membuat pembiayaan utang semakin mahal.

Tetapi ia memperingatkan bahwa Kemenkeu harus ekstra hati-hati, dalam mengelola penerbitan SBN. Pasalnya, pasar SBN akan semakin berat dan mahal sebab kondisi pasar obligasi domestik semakin menantang seiring tekanan global dan memburuknya persepsi investor terhadap perekonomian Indonesia.

Di sisi lain, kebutuhan pembiayaan pemerintah masih cukup besar. Kemenkeu mencatat realisasi penerbitan SBN hingga akhir September 2026 mencapai Rp 497,5 triliun atau 62,2% dari target Rp 799,5 triliun. Dengan demikian, pemerintah masih perlu menerbitkan sekitar Rp 302 triliun SBN hingga akhir tahun.

Kata Wijayanto, target penerbitan tersebut tidak mudah dicapai, terlebih pemerintah juga harus melakukan pembiayaan kembali atau refinancing atas utang lama yang jatuh tempo. Tantangan itu semakin berat di tengah pelemahan rupiah dan kenaikan suku bunga.

“Apalagi pada saat yang bersamaan ada potensi capital outflow besar dari pasar modal kita akibat isu downgrade oleh MSCI yang tidak diresponse secara proper oleh pemerintah kita,” terang Wijayanto kepada Kontan, Rabu (28/10/2026).

Melihat kondisi tersebut Wijayanto memproyeksi, kebutuhan investor terhadap imbal hasil yang lebih tinggi masih akan berlanjut.

“Dengan trend rupiah yang akan terus melemah, dan suku bunga global akan meningkat, sementara risiko fiskal kita terus meningkat, saya memprediksikan investor akan memerlukan suku bunga lebih tinggi dari itu di akhir tahun 2026 dan di 2027,” ujarnya.

Ke depan, ia pun memperkirakan yield SUN masih berpotensi meningkat. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh tantangan global, pelemahan kondisi fiskal, serta memburuknya persepsi terhadap Indonesia.

Baca Juga: Laba Antam (ANTM) Melonjak pada Kuartal III-2026, Ini Rekomendasi Analis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News