KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) bertenor pendek naik ke level tertinggi dalam 17 bulan pada perdagangan Selasa (14/7/2026). Seiring lonjakan harga minyak akibat memanasnya kembali konflik antara AS dan Iran yang meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: AS Lanjutkan Serangan ke Iran, Dua Kapal Tanker Diserang di Selat Hormuz Ketegangan terbaru di Timur Tengah terjadi setelah militer AS melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam ketiga berturut-turut. Di saat yang sama, dua kapal tanker diserang di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak dunia. Perkembangan tersebut mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam satu bulan dan memicu kekhawatiran bahwa inflasi kembali meningkat. Kondisi itu membuat pelaku pasar semakin yakin The Fed akan kembali menaikkan suku bunga tahun ini. Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, pasar kini telah sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga paling lambat pada September. Sementara peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli meningkat menjadi 43,3%, dibandingkan 25,7% sepekan sebelumnya. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun, yang sangat sensitif terhadap ekspektasi kebijakan moneter, naik 2 basis poin menjadi 4,283%, level tertinggi sejak Februari 2025. Sementara itu, imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi dalam dua bulan sebelum terakhir diperdagangkan di 4,619%.
Baca Juga: Emas Sentuh Level Terendah Dua Pekan, Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi Pernyataan Waller Perkuat Ekspektasi Kenaikan yield juga dipicu komentar Gubernur The Fed Christopher Waller pada Senin. Waller mengatakan bank sentral AS mungkin perlu menaikkan suku bunga dalam waktu dekat apabila data ekonomi mendatang menunjukkan inflasi masih bertahan jauh di atas target 2%. Pernyataan tersebut semakin meningkatkan perhatian pasar terhadap rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk Juni yang dijadwalkan terbit pada Selasa.
Strategis OCBC memperkirakan data inflasi Juni akan menunjukkan adanya sedikit perbaikan berkat turunnya harga energi dalam periode tersebut.
Baca Juga: Kondisi Bisnis Australia Stabil pada Juni 2026, Kepercayaan Pelaku Usaha Membaik "Kami memperkirakan CPI AS pada Juni akan menunjukkan sedikit peredaan karena harga energi yang lebih rendah. Namun, inflasi inti kemungkinan masih tetap tinggi," tulis analis OCBC dalam catatannya. Selain data inflasi, investor juga akan mencermati pidato Ketua The Fed Kevin Warsh, yang dijadwalkan menyampaikan kesaksian pertamanya di hadapan Kongres AS sejak menjabat sebagai pimpinan bank sentral Amerika Serikat.