Yield Treasury AS Mendekati 5%, Saham Asia Berguguran



KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) obligasi global melonjak ke level tertinggi baru pada Jumat (11/9/2026), seiring lonjakan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan mendorong investor memperkirakan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut dari bank sentral dunia.

Melansir Reuters, harga minyak melonjak sekitar 6% pada perdagangan Kamis. Harga minyak mentah Brent bahkan sempat mencapai level US$ 109,97 per barel pada Jumat, tertinggi dalam empat bulan.

Baca Juga: Harga Emas Bertahan Dekat Level Terendah Sepekan US$ 4.318 pada Jumat (11/9)


Kenaikan harga minyak terjadi ketika arus perdagangan melalui Selat Hormuz masih terbatas di tengah konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Di saat yang sama, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengambil alih pelabuhan Mocha di Yaman sehingga meningkatkan ancaman terhadap ekspor minyak Arab Saudi melalui Laut Merah.

Analis RBC Capital Markets menilai, eskalasi pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan yang didukung Arab Saudi dalam sepekan terakhir menjadi kekerasan paling signifikan di Yaman dalam beberapa tahun terakhir.

"Ini membuat lalu lintas maritim melalui Bab el-Mandeb sangat terancam," tulis analis RBC Capital Markets.

RBC memperkirakan, harga Brent dapat mencapai US$ 121,99 per barel pada kuartal IV 2026 apabila gangguan pasokan berlangsung lebih lama.

Baca Juga: Harga Minyak Kian Panas Jumat (11/9), Brent Dekati US$ 110 per Barel

Kekhawatiran bahwa konflik akan berlangsung berkepanjangan mulai tercermin di pasar obligasi.

Pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa perang dapat berlangsung hingga melewati pemilu paruh waktu AS pada November turut meningkatkan kekhawatiran inflasi.

Yield Treasury AS mendekati 5%

Di AS, yield obligasi Treasury tenor 10 tahun melonjak dan mendekati level penting 5%. Sementara itu, yield Treasury tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2007.

Yield Treasury dua tahun juga melonjak 12 basis poin dalam semalam. Kenaikan tersebut terjadi ketika pasar meningkatkan taruhan bahwa Federal Reserve (The Fed) perlu menaikkan suku bunga pada bulan ini untuk menekan inflasi.

Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed mencapai 68%.

Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$ 109, Pasar Global Kembali Dibayangi Inflasi

Tekanan juga terjadi di pasar obligasi Asia. Yield obligasi pemerintah Australia tenor tiga tahun melonjak 17 basis poin menjadi 5,037%, level tertinggi dalam 15 tahun.

Sementara itu, yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 5,5 basis poin menjadi 2,965%.

Analis JPMorgan memperkirakan delapan dari sembilan bank sentral negara maju yang mereka pantau akan menaikkan suku bunga hingga akhir tahun.

Proyeksi tersebut mencakup The Fed, Bank of Japan (BoJ), empat bank sentral Eropa, Reserve Bank of Australia, serta Reserve Bank of New Zealand. Kanada menjadi satu-satunya bank sentral yang diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan lebih longgar.

Saham Asia ikut tertekan

Lonjakan yield obligasi meningkatkan tingkat diskonto yang digunakan dalam valuasi perusahaan. Kondisi ini menekan saham, terutama ketika investor mulai memperhitungkan risiko suku bunga yang lebih tinggi.

Indeks saham berbasis sumber daya Australia turun sekitar 1%. Indeks Nikkei Jepang merosot 2,8%, sementara indeks KOSPI Korea Selatan anjlok 2,7%.

Kontrak berjangka Nasdaq turun 0,2%, sedangkan kontrak berjangka S&P 500 relatif tidak berubah.

Baca Juga: Bukan Indonesia, 3 Negara Tetangga Ini Masuk 10 Negara Terbaik untuk Pensiunan 2026

Di pasar valuta asing, dolar AS menguat seiring kenaikan yield Treasury. Dolar AS naik 0,4% terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Kamis dan berada di level 99,06 pada Jumat.

Sementara itu, harga emas bertahan di sekitar US$ 4.317 per ons troi setelah anjlok hampir 2% pada perdagangan sebelumnya. Emas yang biasanya menjadi aset safe haven justru belum mampu memperoleh aliran dana besar di tengah meningkatnya tekanan suku bunga.