KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam dua bulan pada perdagangan Rabu (22/7/2026). Kenaikan ini dipicu lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik AS-Iran yang kembali memicu kekhawatiran inflasi serta meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: Gelombang Panas di Prancis Sebabkan 5.764 Kematian Berlebih dalam Dua Pekan Melansir
Reuters, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat menyentuh level 4,655%, tertinggi sejak 20 Mei, sebelum berada di level 4,638%. Sementara itu, yield obligasi tenor dua tahun, yang lebih sensitif terhadap prospek kebijakan moneter, naik menjadi 4,272%. Kenaikan yield terjadi setelah harga minyak melonjak mendekati level tertinggi dalam enam pekan. Sentimen dipicu pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang menyebut Iran belum menunjukkan keseriusan untuk mengakhiri konflik melalui jalur diplomatik. Konflik yang meluas di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terganggunya distribusi energi global melalui dua jalur pelayaran strategis, yakni Selat Hormuz dan Laut Merah.
Baca Juga: Permintaan Rokok Masih Kuat, Philip Morris Genjot Investasi Zyn di Tengah Persaingan Kondisi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi akan mendorong inflasi, sehingga memperkuat peluang The Fed mempertahankan kebijakan moneter yang ketat atau bahkan kembali menaikkan suku bunga. Gubernur The Fed Christopher Waller pekan lalu juga menyampaikan bank sentral kemungkinan perlu menaikkan suku bunga dalam waktu dekat apabila inflasi terus bertahan jauh di atas target 2%. "Christopher Waller mengubah nada pernyataannya menjadi lebih hawkish, dengan penekanan yang sepenuhnya terlepas dari dampak kenaikan harga energi. Itu menjadi pijakan baru bagi ekspektasi jalur kebijakan moneter yang lebih ketat, terlepas dari bagaimana perkembangan perang berlangsung," ujar Macro Strategist FHN Financial, Will Compernolle. Berdasarkan Fed Funds Futures, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed 29 Juli hanya sekitar 26%. Namun, probabilitas kenaikan pada September mencapai 71%, sedangkan peluang kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026 mencapai 88%.
Baca Juga: Kantor Pusat Deutsche Bank Digeledah, Kasus Penggelapan Pajak Kembali Mencuat Selain dipengaruhi prospek kebijakan The Fed, kenaikan yield Treasury juga mengikuti lonjakan yield obligasi pemerintah Inggris (gilt) yang terdorong kekhawatiran terhadap kondisi fiskal negara tersebut. "Fokus pasar juga tertuju pada kekhawatiran fiskal di Eropa. Secara umum saat ini terjadi aksi jual di pasar obligasi pemerintah global," kata Compernolle.
Ekspektasi inflasi investor juga meningkat. Tingkat inflasi yang tercermin dari breakeven inflation obligasi Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) tenor lima tahun naik menjadi 2,31%, dari 2,21% pada 24 Juni. Sementara itu, yield riil obligasi TIPS tenor 10 tahun mencapai 2,375%, level tertinggi sejak gejolak pasar akibat tarif dagang pada April 2025.
Baca Juga: Rubio-Wang Yi Bahas Kunjungan Xi, Iran dan Laut China Selatan Memanas Pada Rabu waktu setempat, Departemen Keuangan AS juga dijadwalkan melelang obligasi tenor 20 tahun senilai US$ 13 miliar, disusul lelang obligasi TIPS tenor 10 tahun senilai US$ 21 miliar pada Kamis.