KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ada risiko peralihan strategi korporasi menghimpun dana, dari kredit perbankan ke penerbitan surat utang, seiring menurunnya imbal hasil (yield) pasar surat utang (obligasi) korporasi yang cenderung sejalan dengan penurunan suku bunga acuan BI rate. Sepanjang 2025, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat total penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp 284,3 triliun, terbang dari posisi Rp 149,7 triliun pada tahun sebelumnya atau naik 89,87% secara tahunan. Chief Economist Pefindo Suhindarto menyebut, tren itu di antaranya didorong oleh faktor biaya dana yang lebih murah. Tak heran, memang imbal hasil benchmark obligasi korporasi yang dicatat Pefindo pun turun hampir 100 bps, dari 7% pada akhir 2024 menjadi 6,07% pada akhir 2025. Itu amat sejalan dengan penurunan BI rate sebesar 125 bps sepanjang 2025.
Yield Turun, Korporasi Pilih Terbitkan Surat Utang Ketimbang Ambil Kredit
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ada risiko peralihan strategi korporasi menghimpun dana, dari kredit perbankan ke penerbitan surat utang, seiring menurunnya imbal hasil (yield) pasar surat utang (obligasi) korporasi yang cenderung sejalan dengan penurunan suku bunga acuan BI rate. Sepanjang 2025, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat total penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp 284,3 triliun, terbang dari posisi Rp 149,7 triliun pada tahun sebelumnya atau naik 89,87% secara tahunan. Chief Economist Pefindo Suhindarto menyebut, tren itu di antaranya didorong oleh faktor biaya dana yang lebih murah. Tak heran, memang imbal hasil benchmark obligasi korporasi yang dicatat Pefindo pun turun hampir 100 bps, dari 7% pada akhir 2024 menjadi 6,07% pada akhir 2025. Itu amat sejalan dengan penurunan BI rate sebesar 125 bps sepanjang 2025.