KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keperkasaan imbal hasil (
yield) obligasi pemerintah AS belum mampu meruntuhkan daya tahan pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik berkat sokongan sentimen internal. Berdasarkan data
Bloomberg per Rabu (24/9/2026), yield UST tenor 10 tahun tercatat melambung ke level 5,14%, sementara UST tenor 5 tahun berada di level 5%. Di saat yang sama, yield Surat Berharga Negara (SBN) domestik justru cenderung melandai, dengan tenor 10 tahun berada di posisi 7,09% dan tenor 5 tahun bergerak di level 6,92%. Melandainya yield SBN di tengah lonjakan yield UST terutama didorong oleh derasnya arus modal asing yang masuk, ekspektasi kebijakan suku bunga domestik yang melunak, serta solidnya permintaan investor lokal.
Baca Juga: Dolar AS Makin Perkasa, Won dan Yuan Masih Menarik Dicermati Langkah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75% menjadi sinyal positif bagi pasar bahwa risiko kenaikan suku bunga lanjutan dalam waktu dekat kian mengecil. Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy, menjelaskan bahwa pergerakan pasar SBN tidak selalu mengekor arah yield UST secara
one to one karena faktor fundamental domestik memegang peranan sangat krusial. "Pasar mendapat dukungan dari BI yang menahan BI-Rate di 5,75%, inflasi yang masih terkendali, serta permintaan domestik dan aliran dana asing ke SBN," kata Budi kepada Kontan, Kamis (24/9/2026). Dukungan aliran modal asing tercatat cukup tebal. Investor portofolio asing membukukan net inflow hingga US$0,4 miliar pada kuartal III–2026 per 21 September, yang sebagian besar mengalir ke instrumen SBN. Penyerapan lelang Surat Utang Negara (SUN) juga tebal, seperti lelang pada 15 September yang mengumpulkan penawaran (incoming bids) mencapai Rp 61 triliun, jauh di atas nominal yang dimenangkan sebesar Rp 34 triliun. Ditambah lagi, inflasi inti Agustus 2026 yang terjaga di level 2,92% kian memperkuat kestabilan harga obligasi domestik. Sisi ekspektasi moneter memberikan dampak paling kentara pada SBN tenor pendek hingga menengah. Penurunan yield yang cukup tajam pada tenor 5 tahun mencerminkan sensitivitas segmen ini terhadap kepastian arah suku bunga acuan dan berkurangnya premi risiko kenaikan harga obligasi. Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai, penurunan yield domestik lebih merupakan cerminan kekuatan teknikal dan ekspektasi pasar lokal yang mampu mengimbangi kejutan (shock) dari pasar global secara sementara. "Penurunan yield domestik lebih tepat dibaca sebagai kekuatan teknikal dan ekspektasi domestik yang sementara mengimbangi shock global, bukan bukti bahwa SBN telah terlepas dari siklus suku bunga AS," ujar Syafruddin kepada Kontan, Kamis (24/9/2026). Hingga akhir tahun 2026, pergerakan yield SBN diproyeksikan cenderung bergerak mendatar (
sideways) hingga sedikit melandai.
Baca Juga: UU Reforma Agraria Disahkan, Ciputra (CTRA) Tegaskan Jaga Land Bank SBN tenor 5 tahun diperkirakan bergerak pada rentang 6,6%–7,0%, sementara tenor 10 tahun berada di kisaran 6,9%–7,3%.
Meski SBN masih mampu menahan tekanan lonjakan yield UST, daya tahan pasar obligasi domestik tetap memiliki batas. Apabila yield UST bertahan di atas level 5% dalam jangka waktu lama, selisih imbal hasil (yield spread) SBN terhadap aset bebas risiko AS akan semakin tergerus. Kondisi tersebut berisiko mengurangi daya tarik relatif SBN, meningkatkan tekanan pada nilai tukar rupiah, dan memicu kenaikan premi risiko yang pada akhirnya berpotensi mendorong yield SBN kembali merangkak naik, terutama pada tenor 10 tahun yang lebih rentan terhadap risiko fiskal dan term premium global. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News