Yield US Treasury 2 Tahun Turun Usai Komentar Dovish Petinggi The Fed John Williams



KONTAN.CO.ID - Yield US Treasury tenor dua tahun berbalik turun pada perdagangan Selasa (29/9/2026), setelah Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan The Fed masih memiliki waktu untuk mencermati data ekonomi sebelum kembali menaikkan suku bunga.

Komentar tersebut mendorong pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober.

Berdasarkan harga kontrak fed funds futures, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin kini berada di kisaran 50%, turun dari hampir 70% pada awal perdagangan menurut data LSEG.


Baca Juga: 5 Saham Bisa Short Selling Mulai Besok (1/10), Cek Prospeknya

Kontrak futures suku bunga juga kini mencerminkan ekspektasi satu kali kenaikan suku bunga lagi hingga akhir tahun.

Williams sebelumnya mengatakan satu kenaikan tambahan kemungkinan sesuai dengan proyeksinya apabila perkembangan ekonomi berjalan sesuai perkiraan.

“Tidak ada kebutuhan untuk bertindak terburu-buru” setelah The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September, kata Williams dalam materi pidatonya pada Selasa.

Yield US Treasury tenor dua tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan moneter, turun 3,51 basis poin menjadi 4,889%.

Yield sempat menyentuh 4,9596% pada awal perdagangan, level tertinggi sejak Mei 2024.

Baca Juga: Perusahaan Kendaraan Listrik Grup Bakrie Ini Akan Right Issue Rp 3 T, Ini Jadwalnya

Namun, pergerakan yield tenor lebih panjang masih menunjukkan tekanan. Yield US Treasury tenor 10 tahun naik 1,32 basis poin menjadi 5,255%, setelah sebelumnya mencapai 5,2932%, level tertinggi sejak pertengahan Juni 2007.

Sementara itu, yield obligasi tenor 30 tahun naik 3 basis poin menjadi 5,592% setelah sempat mencapai level tertinggi sejak Juni 2002.

Pergerakan pasar obligasi AS juga dipengaruhi oleh harga minyak yang turun setelah investor melihat tanda-tanda pemulihan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah.

Di sisi lain, pejabat AS dan Iran dilaporkan kembali melakukan pembicaraan terpisah melalui mediator dalam upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama tujuh bulan.

Dari sisi ekonomi, kepercayaan konsumen AS juga menunjukkan pelemahan. Conference Board melaporkan indeks kepercayaan konsumen turun 6,7 poin menjadi 81,9 pada September, level terendah sejak 2014 dan jauh di bawah perkiraan ekonom sebesar 89,2.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Konsolidasi di Kisaran 6.000-6.200 pada Rabu (30/9), Cek Sentimennya

Rumah tangga AS juga memperkirakan kondisi bisnis dan pasar tenaga kerja akan memburuk dalam enam bulan mendatang.

Data pasar tenaga kerja menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan pada Agustus turun menjadi 7,08 juta, dibandingkan ekspektasi 7,23 juta dan 7,34 juta pada Juli.

Investor selanjutnya menanti data Personal Consumption Expenditures (PCE) Agustus pada Rabu. Data tersebut menjadi salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian utama The Fed. Laporan nonfarm payrolls September kemudian akan dirilis pada Jumat.

Head of Research ING America Padhraic Garvey mengatakan, pergerakan yield masih menunjukkan kecenderungan naik meski sejumlah data ekonomi AS melemah.

“Biasanya, angka kepercayaan konsumen yang lemah akan menjadi sinyal positif bagi obligasi karena menunjukkan perlambatan ekonomi yang dapat menekan inflasi dan yield. Namun, hal itu tidak terjadi hari ini,” kata Garvey.

Baca Juga: Wall Street Melemah Selasa (29/9), Yield US Treasury 10 Tahun Tembus 5,29%

Di antara pejabat The Fed, pandangan mengenai arah kebijakan moneter masih beragam. Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee memperingatkan bahwa membiarkan inflasi berada di atas target The Fed selama 5,5 tahun merupakan kondisi yang berisiko.

Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis Alberto Musalem mengatakan kekuatan ekonomi AS saat ini sebagian bergantung pada optimisme terhadap perkembangan industri kecerdasan buatan (AI).

Menurut dia, kondisi tersebut dapat menjadi risiko apabila ekspektasi terhadap industri AI tidak terpenuhi.

Di pasar obligasi, selisih yield US Treasury tenor dua tahun dan 10 tahun berada di level positif 36,4 basis poin.

Selisih tersebut kerap menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor dalam membaca ekspektasi terhadap perekonomian.

Baca Juga: Saham Mayora Indah (MYOR) Anjlok 34% Sepanjang Tahun 2026, Simak Rekomendasi Analis

Investor juga masih mencermati pasar obligasi Eropa serta pasokan obligasi korporasi AS yang cukup besar.

Paramount Skydance sebelumnya mengumumkan rencana penerbitan surat utang senilai US$ 44,4 miliar, yang turut memberikan tekanan terhadap pasar obligasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News