Yield US Treasury Anjlok, Asing Berpotensi Serbu SBN Mencapai Rp 15 Triliun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penurunan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun ke level 5% menjadi angin segar bagi pasar keuangan domestik.

Pergeseran likuiditas global ini membuka keran masuknya aliran modal asing (inflow) ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) sekaligus meredakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, meski kewaspadaan terhadap risiko volatilitas global masih sangat diperlukan.

Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman menilai, melebarnya selisih imbal hasil obligasi memang memberikan ruang bagi masuknya dana asing, tetapi hal tersebut tidak menjamin terjadinya arus modal secara seketika.


Baca Juga: Saham Energi Hijau Ada Katalis Positif, Cek Rekomendasi BREN, KEEN, TOBA, PGEO

Menurutnya, merosotnya yield US Treasury saat ini lebih banyak dipicu oleh sentimen penghindaran risiko (risk-off), sehingga pasar masih sangat memperhitungkan tingkat premi risiko domestik serta potensi pelebaran tekanan mata uang.

"Artinya, penurunan yield SBN sangat ditentukan oleh kredibilitas fiskal dan stabilitas makroekonomi, bukan semata-mata pergerakan obligasi global," kata Rizal kepada Kontan, Jumat (23/10/2026).

Di sisi lain, Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia Budi Frensidy memproyeksikan bahwa tambahan kucuran modal asing sebesar Rp5 triliun hingga Rp15 triliun masih berpeluang masuk dalam beberapa pekan ke depan apabila skenario iklim investasi tetap kondusif.

Derasnya likuiditas tersebut diyakini bakal mendorong yield SBN tenor 10 tahun, yang saat ini bertengger di kisaran 7,41%, untuk terkoreksi turun sebanyak 10 hingga 25 basis poin menuju area 7,15%–7,30%.

Selain mengerek harga obligasi, pergeseran arus modal ini juga berpotensi menopang pergerakan mata uang Garuda.

Beranjak dari posisi rupiah yang saat ini bergerak di kisaran Rp 18.060 per dolar AS seperti yang dicatat INDEF, Budi memprediksi adanya ruang penguatan jangka pendek untuk menguji level ekuilibrium baru. Rentang Rp 17.700–Rp 18.000 per dolar AS dinilai realistis, asalkan tren pelonggaran yield global diiringi oleh berlanjutnya pelemahan indeks dolar.

Sebagai strategi optimal dalam merespons momentum pergerakan yield serta proyeksi The Fed yang kemungkinan besar menahan suku bunga di level 3,75%–4,00% pada 28 Oktober mendatang, instrumen obligasi bertenor menengah kini menjadi sorotan utama untuk dikoleksi.

"Menurut saya, tenor menengah 5–10 tahun menawarkan keseimbangan yang cukup menarik antara imbal hasil dan risiko," ujar Budi.

Secara spesifik, SBN seri FR0109 yang jatuh tempo pada 2031 dan seri FR0108 yang jatuh tempo pada 2036 dinilai paling layak untuk dicermati oleh para pelaku pasar.

Kedua seri tersebut menjanjikan indikasi imbal hasil yang kompetitif, yakni masing-masing berada di level 7,19% dan 7,38%.

Baca Juga: Amman Mineral (AMMN) Buyback Rp 1 Triliun, Ini Rekomendasi Analis

Sementara itu, bagi investor dengan profil risiko yang lebih berhati-hati, seri bertenor 3 hingga 5 tahun dapat dijadikan prioritas portofolio guna meminimalisasi risiko volatilitas harga (capital loss) yang kerap membayangi tenor panjang.

Langkah akumulasi investasi ini sangat disarankan untuk dieksekusi secara bertahap seiring dengan masih tingginya ketidakpastian geopolitik global yang sewaktu-waktu bisa membalikkan arah angin pasar domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News