Yield US Treasury Melonjak, Saham Asia Masih Bertahan di Tengah Tekanan Pasar



KONTAN.CO.ID - Saham Asia masih mampu bertahan di tengah aksi jual obligasi global yang mendorong imbal hasil US Treasury bertenor panjang ke level tertinggi dalam hampir dua dekade. Kondisi ini meningkatkan biaya pendanaan sekaligus menekan valuasi aset berisiko.

Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun tipis 0,1% pada perdagangan Jumat (25/9/2026). Sebagian besar pasar Asia, termasuk China daratan, Taiwan dan Korea Selatan, ditutup karena libur.

Di kawasan, indeks Nikkei Jepang menguat 1,3%, sedangkan indeks saham Australia yang didominasi sektor sumber daya turun 0,4%. Indeks Hang Seng Hong Kong merosot 1,4%.


Baca Juga: Update Medali Indonesia di Asian Games 2026: Tambah Dua Perunggu Jumat (25/9) Pagi

Dari pasar Amerika Serikat (AS), kontrak berjangka Nasdaq naik 0,3%, sedangkan S&P 500 futures menguat tipis 0,1%.

Tekanan terhadap aset berisiko datang dari aksi jual di pasar obligasi global. Kekhawatiran inflasi dan tekanan fiskal mendorong investor meminta imbal hasil lebih tinggi, terutama untuk surat utang bertenor panjang.

"Pasar obligasi dunia sedang mengirimkan sinyal keras dan mengabaikannya bisa sangat mahal," kata Nigel Green, CEO deVere Group.

Menurut Green, ketika imbal hasil aset bebas risiko di ekonomi terbesar dunia berada di atas 5%, berbagai kelas aset harus kembali mempertanggungjawabkan valuasinya, mulai dari saham, properti, private credit hingga surat utang negara berkembang.

Yield US Treasury tenor 10 tahun naik 1 basis poin menjadi 5,1751%. Dalam dua hari, yield tersebut telah melonjak 20 basis poin dan sempat mencapai 5,2251%, level tertinggi dalam 19 tahun.

Kenaikan dua hari tersebut menjadi yang terbesar sejak April tahun lalu ketika kebijakan tarif "Liberation Day" pemerintahan Donald Trump mengguncang pasar keuangan.

Baca Juga: Uni Eropa Mendesak Inggris untuk Menaikkan Tarif Mobil China

Sementara itu, yield obligasi AS tenor 30 tahun stabil di 5,4671%. Yield tersebut telah melonjak 16 basis poin dalam dua hari dan sempat mencapai 5,5016%, level tertinggi sejak 2004.

Lonjakan yield tersebut turut mendorong suku bunga hipotek AS ke sekitar 7%, sehingga semakin membebani pasar perumahan.

Tekanan juga merambat ke pasar obligasi Asia. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun sempat mencapai 3,115%, tertinggi sejak 1996. Yield tenor lima tahun Jepang juga mencetak rekor 2,41%.

Yield obligasi pemerintah Australia tenor 10 tahun naik 2 basis poin menjadi 5,394%.

Baca Juga: Bertemu PM Takaichi, Trump Ungkap Kekhawatiran tentang Pelemahan Yen

Pasar perkirakan The Fed kembali naikkan suku bunga

Kenaikan yield obligasi AS juga berjalan seiring dengan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Federal Reserve.

Kontrak Fed funds futures kini menunjukkan peluang sekitar 73% untuk kenaikan suku bunga AS pada bulan depan, naik dari sekitar 53% pada awal pekan.

Pasar juga memperkirakan masih terdapat lebih dari 90 basis poin pengetatan moneter dalam siklus ini, setara hampir empat kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Baca Juga: FCGF 2026, Singapura Kejar Kerja Sama dengan China di AI dan Ekonomi Hijau

Yield US Treasury tenor dua tahun berada di 4,8993%. Yield tersebut telah naik 16 basis poin sepanjang pekan ini dan mendekati level tertinggi dalam dua tahun.

Kebijakan The Fed turut memengaruhi bank sentral lain. Ketika tekanan inflasi meningkat, sejumlah bank sentral mulai mengambil sikap lebih ketat.

Bank sentral Norwegia menaikkan suku bunga pada Kamis (24/9), sementara bank sentral Swedia mengisyaratkan kemungkinan mengikuti langkah tersebut sebelum akhir tahun.

Bank sentral Meksiko mempertahankan suku bunga, tetapi menghapus panduan sebelumnya mengenai periode jeda panjang.

Ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi turut menopang dolar. Indeks dolar AS naik sekitar 1% sepanjang pekan ini menjadi 101,22 terhadap sejumlah mata uang utama, mendekati level tertinggi sejak akhir Juli.

Namun, dolar AS melemah 0,4% terhadap yen menjadi 158,23 yen setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam tiga pekan.

Pelemahan dolar terhadap yen terjadi setelah Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan Presiden AS Donald Trump mengangkat isu pelemahan yen dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi awal pekan ini.

Baca Juga: Meta Masuk Perang Perangkat AI, Muse Charm Jadi Andalan Baru

Harga minyak mulai turun

Di pasar komoditas, harga minyak mulai terkoreksi setelah melonjak pada perdagangan sebelumnya.

Harga minyak Brent turun 1,2% menjadi sekitar US$105,30 per barel, setelah naik 3% sehari sebelumnya. Penurunan terjadi di tengah harapan pasar terhadap kemungkinan berakhirnya konflik AS-Iran.

Presiden Iran mengatakan keputusan mengenai kapan perang berakhir berada di tangan AS.

Meski demikian, harga minyak yang masih berada di atas US$100 per barel tetap menjadi perhatian pasar karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga global.

Di Eropa, kontrak berjangka saham kawasan tersebut mengindikasikan pembukaan yang lebih tinggi, dengan pan-region stock futures naik sekitar 0,6% seiring penurunan harga minyak.

Baca Juga: Tesla Mulai Mengirim Truk Listrik Semi ke Pelanggan Utama Pekan Ini