Yield US Treasury Naik, Begini Prospek Obligasi Pemerintah



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Yield obligasi pemerintah AS 10 tahun mencapai 4,60%. Kenaikan yield ini mencapai level tertinggi baru dalam satu tahun karena kekhawatiran atas inflasi yang dipicu perang di Timur Tengah. Sementara yield SBN 10 tahun mencapai 6,85% dari 6,69% di akhir pekan. 

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, prospek obligasi Indonesia setelah imbal hasil US Treasury 10 tahun mencapai sekitar 4,6% cenderung lebih menantang dalam jangka pendek. Kenaikan imbal hasil surat utang Amerika membuat selisih imbal hasil antara SBN dan aset dolar AS menjadi kurang menarik, sehingga investor asing akan meminta kompensasi risiko lebih tinggi untuk tetap memegang SBN. 

“Tekanan ini sudah terlihat ketika rupiah jatuh sampai Rp17.663 per dolar AS dan imbal hasil SBN 10 tahun naik ke 6,86% pada 18 Mei 2026,” ujar Josua kepada Kontan, Senin (18/5/2026). 


Baca Juga: Semen Indonesia (SMGR) Catat Laba Rp 80 Miliar di Kuartal I, Cek Rekomendasi Sahamnya

Dengan kondisi seperti ini, Josua melihat harga obligasi Indonesia berisiko tetap tertekan, terutama pada tenor Panjang. Hal ini karena investor masih menilai kombinasi suku bunga global tinggi, rupiah lemah, dan harga minyak tinggi sebagai risiko utama. Namun, prospek obligasi Indonesia tidak sepenuhnya negatif. Imbal hasil SBN yang sudah naik ke kisaran 6,8% mulai kembali menarik bagi investor jangka menengah-panjang, terutama investor domestik seperti bank, dana pensiun, asuransi, dan investor ritel yang mencari pendapatan tetap. 

Imbal hasil SBN 10 tahun pada 2026 akan naik karena premi risiko dan potensi suku bunga kebijakan yang lebih tinggi, tetapi tetap berada dalam rentang yang masih terkelola. Imbal hasil SBN 10 tahun sekitar 6,83% pada 2026, sementara sebelumnya memperkirakan rentang 6,60-6,90% pada akhir 2026. 

“Artinya, pasar memang sedang melewati fase tekanan, tetapi bukan berarti obligasi Indonesia kehilangan daya tarik sepenuhnya,” kata Josua. 

Josua menambahkan, sentimen yang paling memengaruhi obligasi Indonesia ke depan adalah arah imbal hasil US Treasury, kebijakan The Fed, harga minyak, rupiah, kebutuhan pembiayaan APBN, dan arus modal asing. Selama The Fed belum memberi sinyal pemangkasan suku bunga yang jelas, investor global akan tetap berhati-hati terhadap obligasi negara berkembang. Kenaikan harga minyak juga menjadi risiko besar karena Indonesia adalah pengimpor minyak bersih, sehingga pasar akan mengaitkannya dengan risiko subsidi energi, defisit fiskal, dan tekanan rupiah. 

“Pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak telah menekan aset Indonesia, sementara imbal hasil SBN naik tajam karena kekhawatiran inflasi dan tekanan fiskal,” terang Josua. 

Dari sisi domestik, Josua menyebut faktor fiskal menjadi sangat penting. Lelang SBN pada pertengahan Mei mencatat permintaan terlemah dalam lebih dari satu tahun, dengan penawaran masuk Rp 51,4 triliun dan rasio penawaran terhadap target hanya 1,43 kali.

Pemerintah hanya memenangkan Rp 30,3 triliun, lebih rendah dari target indikatif Rp 36 triliun. Ini menunjukkan investor masih membeli SBN, tetapi lebih selektif dan meminta imbal hasil yang lebih tinggi karena rupiah melemah, harga minyak naik, dan risiko defisit fiskal meningkat. 

“Jika pola ini berlanjut, biaya penerbitan utang pemerintah akan lebih mahal dan kurva imbal hasil SBN bisa tetap tinggi,” ucap Josua. 

Selain itu, pasar juga mencermati peran Bank Indonesia dan instrumen moneternya. BI mempertahankan BI Rate di 4,75% pada April 2026 untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, serta menyatakan siap memperkuat kebijakan jika diperlukan. Di satu sisi, sikap ini membantu menjaga kepercayaan pasar karena BI tidak membiarkan rupiah bergerak liar. 

Namun di sisi lain, jika tekanan rupiah berlanjut dan BI perlu menaikkan suku bunga, maka imbal hasil SBN bisa terdorong lebih tinggi lagi. SRBI juga masih menarik arus masuk asing, tetapi keberadaannya dapat menjadi pesaing SBN karena menawarkan imbal hasil menarik dengan tenor lebih pendek.

“Strategi investor obligasi saat ini sebaiknya lebih defensif dan bertahap,” ujar Josua. 

Josua mengatakan, untuk investor konservatif, tenor pendek sampai menengah masih lebih aman karena risiko penurunan harga lebih terbatas dibanding tenor panjang. Lalu, untuk investor yang memiliki jangka waktu panjang, pelemahan harga SBN bisa mulai dimanfaatkan secara bertahap, terutama jika imbal hasil SBN 10 tahun mendekati atau melewati 7%, tetapi pembelian sebaiknya tidak dilakukan sekaligus. Strategi bertahap lebih bijak karena pasar masih sangat sensitif terhadap rupiah, minyak, dan sinyal The Fed. 

Investor juga perlu memisahkan tujuan investasi: jika ingin pendapatan tetap, SBN bisa dipegang sampai jatuh tempo; tetapi jika ingin keuntungan harga, waktu masuk harus lebih disiplin karena volatilitas masih tinggi. 

Adapun, untuk investor institusi, pengelolaan durasi menjadi kunci. Ketika imbal hasil berpotensi naik, portofolio dengan tenor terlalu panjang akan lebih rentan mengalami penurunan nilai pasar. Karena itu, investor dapat menjaga porsi tenor pendek dan menengah lebih besar, sambil menambah tenor panjang hanya saat imbal hasil sudah memberikan kompensasi yang cukup terhadap risiko. 

Bagi investor ritel, pilihan SBN ritel atau obligasi negara dengan kupon tetap masih menarik jika tujuannya pendapatan berkala dan tidak terganggu oleh perubahan harga harian. Namun, investor yang sensitif terhadap nilai pasar sebaiknya tidak terlalu agresif masuk ke tenor panjang sebelum rupiah dan harga minyak menunjukkan stabilisasi yang lebih jelas. 

Josua memproyeksikan imbal hasil (yield) SBN 10 tahun sampai akhir semester I – 2026 kemungkinan bergerak di kisaran 6,80% sampai 7,0%. Dalam skenario dasar, jika US Treasury 10 tahun bertahan di sekitar 4,5% sampai 4,6%, harga minyak tidak melonjak lebih jauh, dan BI mampu menjaga rupiah agar tidak bergerak liar, imbal hasil SBN 10 tahun berpotensi berada di area 6,85% sampai 6,95%. 

Namun, dalam skenario tekanan, jika rupiah kembali melemah mendekati Rp 18.000 per dolar AS, harga minyak bertahan tinggi, dan investor asing kembali menjual SBN, imbal hasil bisa menguji level 7%. Sebaliknya, jika tensi geopolitik mereda, dolar AS melemah, dan arus asing kembali masuk, imbal hasil SBN 10 tahun dapat turun kembali ke kisaran 6,70% sampai 6,80%.

Kesimpulannya, obligasi Indonesia masih menarik secara imbal hasil, tetapi belum masuk fase aman sepenuhnya. Kenaikan US Treasury ke sekitar 4,6% membuat pasar SBN harus menawarkan premi risiko lebih tinggi, apalagi rupiah masih lemah dan harga minyak tinggi. Strategi terbaik bukan keluar total dari obligasi, tetapi memperbaiki komposisi portofolio: lebih selektif pada tenor, masuk bertahap, menjaga likuiditas, dan menunggu titik imbal hasil yang cukup menarik. 

“Pemerintah dan BI perlu menjaga stabilitas rupiah, kredibilitas fiskal, dan komunikasi kebijakan agar tekanan di pasar obligasi tidak berubah menjadi kenaikan biaya utang yang lebih permanen,” pungkas Josua.

Baca Juga: IHSG Ditutup Melemah 1,85% di Perdagangan Senin (18/5), Bos BEI Bilang Begini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News