KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) naik pada perdagangan Senin (20/7/2026), seiring investor mencermati potensi lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik dengan Iran yang dikhawatirkan kembali memicu tekanan inflasi. Kenaikan yield terjadi meski data terbaru menunjukkan tekanan inflasi di Amerika Serikat mulai mereda pada Juni.
Baca Juga: Houthi Umumkan Blokade Laut terhadap Arab Saudi, Konflik Timur Tengah Memanas Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh level tertinggi dalam hampir enam pekan pada Senin sebelum memangkas penguatannya. Pelemahan harga terjadi setelah Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa negosiasi dengan Amerika Serikat masih dapat dilakukan jika sejalan dengan kepentingan nasional Iran. Di sisi lain, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang aset militer Amerika Serikat di Timur Tengah setelah serangkaian serangan udara terbaru Washington ke sejumlah kota di Iran. Rangkaian serangan tersebut semakin memperburuk kondisi gencatan senjata sementara yang sebelumnya telah disepakati kedua negara. "Minyak memang harus naik lebih tinggi. Ini bukan sesuatu yang akan selesai dalam semalam," kata Managing Director Global Rates Trading Mischler Financial Group, Tom di Galoma.
Baca Juga: Piala Dunia 2026 Sisakan 10 Catatan, dari Format 48 Tim hingga Kontroversi Tiket Melansir
Reuters, yield obligasi pemerintah AS tenor dua tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), naik 2,37 basis poin menjadi 4,196%. Sementara itu, yield obligasi tenor 10 tahun naik 2,25 basis poin menjadi 4,564%. Selisih (spread) antara yield obligasi tenor dua tahun dan 10 tahun tercatat sebesar 36,6 basis poin. Pekan lalu, data menunjukkan inflasi konsumen AS melambat lebih besar dari perkiraan pada Juni, terutama karena turunnya harga energi. Indeks harga konsumen (CPI) naik 3,5% secara tahunan hingga Juni, melambat dibandingkan kenaikan 4,2% pada Mei.
Baca Juga: Ketegangan AS-Iran Bikin Investor Waspada, Dolar AS Masih Bergerak Datar Sementara inflasi inti (
core inflation), yang tidak memasukkan komponen energi dan pangan, naik 2,6% secara tahunan setelah sebelumnya berada di level 2,9%. Meski tekanan inflasi mereda, pelaku pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed tahun ini. Berdasarkan kontrak berjangka Fed Funds, probabilitas kenaikan suku bunga pada September mencapai sekitar 62%.
Dengan minimnya agenda data ekonomi pada pekan ini dan memasuki periode blackout pejabat The Fed menjelang rapat kebijakan moneter pada 28–29 Juli, perkembangan konflik Iran diperkirakan akan menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar obligasi.
Baca Juga: Hamas Tunjuk Khalil Al-Hayya sebagai Pemimpin Baru Gantikan Yahya Sinwar Pada pertemuan tersebut, The Fed secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya. Dari sisi penerbitan surat utang, Departemen Keuangan AS dijadwalkan melelang obligasi tenor 20 tahun senilai US$ 13 miliar pada Rabu (22/7), disusul lelang obligasi lindung nilai inflasi (Treasury Inflation-Protected Securities/TIPS) tenor 10 tahun senilai US$ 21 miliar pada Kamis (23/7).