KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) naik pada Rabu (28/10/2026) menjelang pengumuman keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Investor diperkirakan mencermati potensi kenaikan suku bunga pada masa mendatang. The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga saat mengumumkan keputusan pada akhir pertemuan hari ini, setelah menaikkan suku bunga pada September untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Kontrak berjangka suku bunga menunjukkan probabilitas sekitar 90% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga dalam keputusan yang dijadwalkan pukul 14.00 waktu setempat atau 01.00 WIB, menurut perangkat FedWatch milik CME Group. Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada Desember tercatat lebih dari 75%.
Baca Juga: Amazon PHK Karyawan Lagi, Kali Ini Sasar Divisi Perangkat dan Layanan Perhatian investor diperkirakan tertuju pada perkembangan inflasi dan apakah tekanan harga mulai mereda. Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah membuat harga energi bertahan pada level tinggi. Selain itu, kuatnya permintaan dari industri kecerdasan buatan (AI) memicu kekhawatiran terhadap inflasi. Imbal hasil obligasi belakangan ini mulai stabil setelah sebelumnya meningkat seiring kekhawatiran terhadap inflasi, kata Adam Sarhan, CEO 50 Park Investments di New York. “Stabilnya imbal hasil obligasi tersebut cukup memberikan harapan,” katanya. Namun, investor masih menantikan pernyataan The Fed dan data ekonomi untuk mengetahui perkembangan inflasi. “Jika inflasi mulai turun, bukan naik, itu akan menjadi pertanda yang sangat disambut baik,” ujarnya. Harga minyak naik pada Rabu setelah terjadi serangan terhadap sebuah kilang minyak di Arab Saudi, negara pengekspor minyak mentah terbesar di dunia. Laporan pengeluaran konsumsi pribadi alias Personal Consumption Expenditures (PCE) September, yang merupakan indikator inflasi pilihan The Fed, akan dirilis pada Kamis. Harga obligasi naik dan imbal hasilnya turun pada pekan lalu, ketika kekhawatiran mengenai keberlanjutan lonjakan investasi AI memicu aksi jual saham dan meningkatkan daya tarik obligasi sebagai aset aman.
Baca Juga: Apple Dikabarkan Segera Luncurkan MacBook Layar Sentuh Pertamanya, Apa Keunggulannya? Meta Platforms, perusahaan yang mengoperasikan sejumlah jejaring media sosial sekaligus investor besar di bidang AI, mengatakan dalam laporan keuangannya pekan lalu bahwa perusahaan akan menciptakan kelas saham baru, sebagian untuk mengumpulkan dana bagi peningkatan belanja modal lebih lanjut. Investor menilai langkah tersebut sebagai indikasi bahwa tahap berikutnya dari pembangunan infrastruktur AI akan membutuhkan biaya besar bagi para pemegang saham. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun, yang menjadi acuan pasar, mencatat penurunan harian terbesar dalam hampir empat tahun pada Kamis pekan lalu ketika pasar saham melemah. Pada Rabu, imbal hasil tersebut kembali naik dan berada sedikit di atas level 5%. Pengumuman pendanaan terkait AI pada pekan ini kembali meningkatkan minat investor terhadap saham-saham AI. Laporan keuangan kuartalan dari perusahaan teknologi berskala besar Microsoft dan Alphabet dijadwalkan dirilis setelah penutupan pasar pada Rabu. Kedua perusahaan diperkirakan melaporkan percepatan pertumbuhan bisnis komputasi awan (cloud). Berikut pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS pada Rabu:
- Obligasi 10 tahun: naik 3,1 basis poin menjadi 5,024%.
- Obligasi 30 tahun: naik 1,6 basis poin menjadi 5,321%.
- Obligasi 2 tahun: naik 4,2 basis poin menjadi 4,779%.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun biasanya bergerak sejalan dengan ekspektasi pasar terhadap suku bunga The Fed.
Sementara itu, selisih imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun dan 10 tahun, yang kerap dipantau sebagai indikator ekspektasi ekonomi, tercatat positif sebesar 24,4 basis poin.
Baca Juga: Wendy’s Bakal Jadi Perusahaan Tertutup? Trian Ajukan Tawaran US$ 1,4 Miliar Tingkat impas inflasi (breakeven rate) pada obligasi Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) AS tenor lima tahun tercatat sebesar 2,475%, setelah ditutup pada 2,469% pada Selasa. Adapun tingkat impas inflasi TIPS tenor 10 tahun tercatat sebesar 2,355%. Angka tersebut menunjukkan bahwa pasar memperkirakan inflasi rata-rata sekitar 2,4% per tahun selama 10 tahun ke depan.