Yield US Treasury Naik, Tenor 10 dan 30 Tahun Cetak Rekor 24 Tahun



KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) US Treasury mayoritas naik pada perdagangan Senin (5/10/2026). Yield tenor 10 tahun dan 30 tahun bahkan menyentuh level tertinggi baru dalam 24 tahun, di tengah sentimen negatif yang masih membayangi pasar obligasi global.

Kenaikan yield terjadi ketika investor mencermati prospek suku bunga yang lebih tinggi serta potensi inflasi yang masih bertahan hingga 2027.

Laporan Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan, aktivitas sektor jasa Amerika Serikat (AS) melambat pada September.


Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun US$ 2, Ekspor Timur Tengah Mulai Pulih

Namun, kuatnya permintaan domestik membuat rantai pasokan kembali terbebani dan mendorong indeks harga yang dibayarkan perusahaan untuk input ke level tertinggi dalam lebih dari empat tahun.

"Tak ada sesuatu dalam data tersebut yang mendorong yield bergerak ke arah sebaliknya," ujar Direktur Fixed Income Bryn Mawr Trust Jim Barnes.

Menurut Barnes, kekhawatiran fiskal di sejumlah negara juga terus menekan pasar obligasi AS.

"Ini merupakan tema yang terus membayangi pasar obligasi, yakni kekhawatiran fiskal di berbagai negara maju. Ketika kekhawatiran tersebut muncul di suatu negara, hal itu mulai memengaruhi pasar obligasi di seluruh dunia," katanya.

Aksi jual obligasi memang terjadi di berbagai negara dan mendorong yield meningkat. Investor mencermati kondisi utang pemerintah di Prancis dan sejumlah negara lainnya, sekaligus mengantisipasi inflasi yang lebih tinggi serta kenaikan harga minyak akibat perang AS-Israel dengan Iran.

Baca Juga: Harga Emas Bertahan di US$4.100, Dolar AS dan Yield Tinggi Masih Jadi Beban

Yield obligasi Spanyol juga naik pada Senin setelah Perdana Menteri Pedro Sanchez menyerukan pemilihan umum lebih awal pada 29 November.

Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat mandat pemerintah setelah parlemen menolak sejumlah kebijakan perumahan di tengah aksi protes.

Kenaikan yield US Treasury terjadi meski harga minyak dunia turun. Harga minyak melemah setelah ekspor minyak mentah dari Timur Tengah meningkat dan negara-negara G7 berkomitmen menambah pasokan energi.

Baca Juga: Dinasti Politik Di Brasil, Dahulu Bapaknya, Kini Si Anak Berpeluang Jadi Presiden

Ekspektasi suku bunga The Fed

Di sisi lain, peluang Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada bulan ini mulai berkurang.

Pasar mencermati data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan untuk Juli dan Agustus serta perlambatan pertumbuhan nonfarm payrolls pada September.

Namun, pelemahan data ekonomi tersebut belum mampu mengangkat harga obligasi secara signifikan.

Baca Juga: Gara-Gara Kebijakan Ini, Trump Digugat 26 Negara Bagian

Pada Jumat (2/10), yield US Treasury sempat turun setelah data tenaga kerja AS lebih lemah dari perkiraan. Namun, yield kemudian berbalik naik.

"Data yang lemah seharusnya mendorong pasar menguat, tetapi kita masih melihat suku bunga bergerak naik. Sentimen tersebut masih bertahan di pasar, sehingga jika tidak banyak data baru, skenario dasarnya adalah yield terus bergerak naik hanya berdasarkan sentimen," kata Strategis Suku Bunga AS TD Securities Molly Brooks.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan sekitar 76% peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober. Sementara peluang kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan hampir 90%.

The Fed menaikkan suku bunga pada bulan lalu untuk pertama kalinya sejak 2023 sebagai bagian dari upaya mengendalikan inflasi.

Investor juga akan mencermati lelang surat utang AS yang akan berlangsung pekan ini, termasuk lelang US Treasury tenor tiga tahun pada Selasa (6/10).

Permintaan yang lemah pada lelang obligasi bulan lalu turut memperkuat aksi jual di pasar US Treasury.

Baca Juga: Gara-Gara Kebijakan Ini, Trump Digugat 26 Negara Bagian

Pada Senin, yield US Treasury tenor 10 tahun naik 3,4 basis poin menjadi 5,311%. Yield tenor 30 tahun naik 3,2 basis poin menjadi 5,662%.

Yield 10 tahun sempat menyentuh 5,3493%, sedangkan yield 30 tahun mencapai 5,7029%. Keduanya merupakan level tertinggi dalam 24 tahun.

Sementara itu, selisih yield US Treasury tenor dua tahun dan 10 tahun berada di 48,8 basis poin. Selisih tersebut sebelumnya mencapai 49,70 basis poin, level tertinggi sejak 21 Agustus.

Yield Treasury tenor dua tahun, yang biasanya bergerak mengikuti ekspektasi suku bunga The Fed, turun tipis 0,4 basis poin menjadi 4,821%.

Adapun tingkat breakeven obligasi Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) tenor lima tahun berada di 2,378%.

Untuk tenor 10 tahun, breakeven berada di 2,359% menunjukkan pasar memperkirakan inflasi AS rata-rata sekitar 2,4% per tahun dalam satu dekade mendatang.