KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) berbalik menguat pada perdagangan Rabu (29/7/2026), mengakhiri tren penurunan selama tiga hari berturut-turut. Kenaikan tersebut dipicu lonjakan harga minyak dunia setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas, menjelang pengumuman kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: Pasar Global Tertekan, Serangan Baru di Timur Tengah dan The Fed Jadi Sorotan Harga minyak mentah melonjak sekitar 7% setelah Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi melancarkan serangan bersama terhadap kelompok bersenjata yang didukung Iran di Irak. Serangan tersebut merupakan aksi militer pertama AS di Timur Tengah sejak Presiden Donald Trump menghentikan sementara kampanye pengeboman terhadap Iran pekan lalu. Di sisi lain, Iran mengaku telah melancarkan serangan ke pangkalan militer AS di Yordania dan menargetkan kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Menanggapi hal itu, Trump menyatakan akan melakukan serangan balasan. Harga minyak mentah AS (WTI) terakhir tercatat naik 6,79% menjadi US$84,64 per barel, sedangkan minyak Brent melonjak 7% ke level US$89,98 per barel. Kenaikan harga minyak tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi meningkatnya tekanan inflasi, sehingga mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Melansir
Reuters, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 2,1 basis poin menjadi 4,625%, setelah sempat menyentuh 4,6387%.
Baca Juga: Stok Minyak AS Anjlok 7,2 Juta Barel, Tekanan Harga Minyak Kembali Menguat Pasar menanti keputusan The Fed Pelaku pasar kini menantikan hasil rapat kebijakan moneter The Fed yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu waktu setempat. Sejumlah pejabat bank sentral AS, termasuk Ketua The Fed Kevin Warsh, sebelumnya menyampaikan kekhawatiran mengenai tekanan inflasi yang dinilai lebih penting dibandingkan kondisi pasar tenaga kerja.
Baca Juga: Permintaan Tinggi di China, Ferrari Capai Target Kuota Penjualan EV Luce 2026 Meski demikian, data terbaru menunjukkan inflasi konsumen maupun produsen di AS mulai melandai, sehingga mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga. Head of Capital Markets Research and Portfolio Construction U.S. Bank Wealth Management Bill Merz mengatakan, perhatian investor saat ini masih tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah, namun akan segera beralih ke keputusan The Fed. "Hari ini pasar masih fokus pada perkembangan terbaru di Timur Tengah, tetapi perhatian akan segera beralih ke hasil rapat The Fed yang diumumkan sore nanti," ujarnya. Merz menambahkan hubungan antara harga minyak dan yield obligasi AS sempat melemah dalam beberapa pekan terakhir. Namun, kenaikan harga minyak kembali memberikan pengaruh terhadap pergerakan obligasi pemerintah AS, khususnya tenor 10 tahun. Menurutnya, selama belum ada penyelesaian yang lebih permanen atas konflik di Timur Tengah, pasar akan terus dibayangi risiko dari berbagai perkembangan geopolitik. Sementara itu, yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun naik tipis 0,8 basis poin menjadi 5,104%, setelah sempat menyentuh level 5,113%.
Baca Juga: Sepp Blatter Kritik Rencana FIFA Bentuk Anak Usaha Pengelola Piala Dunia Peluang kenaikan suku bunga masih terbuka Mayoritas pelaku pasar masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kali ini. Namun, kemungkinan kenaikan suku bunga belum sepenuhnya hilang. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar masih memperhitungkan peluang sebesar 35,8% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin.
Baca Juga: Trump Siapkan Proyek US$ 22 Miliar untuk Modernisasi Bandara Dulles Kurva imbal hasil obligasi AS yang diukur dari selisih yield obligasi tenor dua tahun dan 10 tahun berada di level positif 31,8 basis poin, yang menjadi salah satu indikator ekspektasi pasar terhadap kondisi ekonomi. Analis Goldman Sachs memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kali ini. Namun, mereka menilai perubahan ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga membuat hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) berpotensi menghadirkan kejutan terbesar untuk rapat tanpa penurunan suku bunga dalam hampir tiga dekade. Di sisi lain, yield obligasi pemerintah AS tenor dua tahun, yang paling sensitif terhadap ekspektasi kebijakan moneter, naik 2,7 basis poin menjadi 4,304%, setelah sempat menyentuh level 4,324%.
Meski peluang kenaikan suku bunga dinilai lebih kecil dibandingkan yang diperkirakan pasar, investor juga akan mencermati sikap Kevin Warsh yang cenderung menghindari pemberian panduan mengenai arah suku bunga ke depan.
Baca Juga: Qualcomm Pasok Chip AI untuk BMW hingga Dekade Mendatang Sementara itu, tingkat inflasi impas (
breakeven inflation rate) obligasi Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) tenor lima tahun berada di level 2,183%, sedikit naik dari penutupan sebelumnya sebesar 2,171%, yang merupakan level terendah sejak November 2024. Adapun
breakeven rate TIPS tenor 10 tahun berada di level 2,202%, mengindikasikan pasar memperkirakan rata-rata inflasi Amerika Serikat akan berada di kisaran 2,2% per tahun dalam satu dekade mendatang.