Yield US Treasury Tembus Level Tertinggi 19 Bulan, Konflik AS-Iran Jadi Pemicu



KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) surat utang Amerika Serikat (AS) melonjak ke level tertinggi dalam 19 bulan pada Selasa (1/9/2026).

Kenaikan ini terjadi setelah konflik AS dan Iran kembali memanas, mendorong harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran inflasi.

Baca Juga: Meksiko Diguncang Bom Mobil dan Drone, Kekerasan Kartel Kian Mengkhawatirkan


Mengutip Reuters, yield obligasi AS tenor 10 tahun naik 2 basis poin menjadi 4,778%, level tertinggi sejak Januari 2025. Sementara itu, yield obligasi tenor 30 tahun sempat menyentuh 5,27% dalam perdagangan Asia, mendekati level tertinggi dalam 19 tahun yang dicapai bulan lalu.

Kenaikan yield tersebut terjadi setelah Iran meluncurkan rudal ke dua pangkalan militer AS di Yordania sebagai respons atas serangan AS ke Pulau Larak, tempat Washington menyatakan telah menyerang peluncur ranjau Iran yang digunakan untuk mengganggu pelayaran di Selat Hormuz.

Konflik AS-Iran yang telah berlangsung selama enam bulan belakangan ini sebelumnya lebih banyak berlangsung melalui sanksi, blokade, dan tekanan ekonomi. Namun, serangan terbaru kembali menegaskan tingginya risiko eskalasi konflik di Timur Tengah.

Harga minyak mentah Brent juga kembali menembus US$91 per barel, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.

Baca Juga: Defisit Transaksi Berjalan Australia Melebar Jadi A$27,2 Miliar pada Kuartal II 2026

Yield obligasi global ikut naik

Tekanan jual di pasar obligasi tidak hanya terjadi di AS. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang dan negara-negara Eropa juga meningkat.

Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun mencapai level tertinggi dalam 30 tahun, menjelang lelang obligasi yang menjadi perhatian pasar pada Selasa.

Di Eropa, kontrak berjangka obligasi pemerintah Jerman atau bund futures turun ke level terendah sejak 2011.

Sementara kontrak futures obligasi pemerintah Prancis atau OAT mencapai rekor terendah dalam perdagangan Asia.

Baca Juga: Trump Rebut Kendali Minyak Venezuela, AS Singkirkan Pengaruh China-Rusia

Pada Senin (31/8/2026), yield obligasi pemerintah Jerman dan Prancis tenor panjang juga telah mencapai level tertinggi dalam lebih dari 15 tahun.

Kenaikan harga minyak sepanjang tahun ini telah meningkatkan ekspektasi terhadap tekanan inflasi dan mengubah prospek suku bunga global. Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pekan lalu.

Warsh mengatakan The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila para pembuat kebijakan belum memperoleh keyakinan bahwa inflasi akan kembali menuju target 2%.

Pernyataan tersebut meningkatkan ekspektasi pasar bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga pada September.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September mencapai 66%, naik tajam dari 41% sepekan sebelumnya.

Trader juga meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of Japan (BOJ) pada bulan ini.

Baca Juga: Aktivitas Pabrik China Menguat pada Agustus, PMI Naik Jadi 51,5

"Meski Warsh tidak memberikan panduan kebijakan ke depan dan keputusan tetap bergantung pada data, keseimbangan risiko setelah Warsh menjelaskan fungsi reaksinya telah bergeser ke arah yang lebih hawkish," kata Blerina Uruci, Kepala Ekonom AS T. Rowe Price.

"Perkiraan terbaru saya adalah peluang kenaikan suku bunga pada September menjadi 50:50," ujarnya.