KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan pasar obligasi domestik masih dibayangi tekanan dari kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) serta tingginya suku bunga global. Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun bertahan di level 7,34% per 31 Juli 2026. Posisi tersebut naik 18 basis poin (bps) secara bulanan MoM dan meningkat 76 bps dibandingkan periode yang sama tahun lalu (YoY), mencerminkan masih tingginya tingkat suku bunga. Dari sisi aktivitas perdagangan, pasar obligasi mengalami perlambatan menjelang akhir pekan. Volume transaksi obligasi korporasi turun dari Rp 9,71 triliun pada 30 Juli menjadi Rp 8,85 triliun pada 31 Juli. Meski begitu, secara kumulatif sepanjang tahun ini, volume perdagangan obligasi korporasi masih mencapai Rp 843,3 triliun. Baca Juga: Merdeka Gold Resources (EMAS) Produksi 15.594 Ounces Emas pada Kuartal II-2026 Sementara itu, volume perdagangan obligasi pemerintah juga menurun dari Rp 18,24 triliun menjadi Rp 13,48 triliun. Kendati demikian, total volume perdagangan obligasi pemerintah sepanjang tahun telah mencapai Rp 3.550 triliun dan masih mendominasi aktivitas transaksi di pasar surat utang. Di pasar valuta asing, rupiah bergerak stabil di kisaran Rp 18.050 per dolar AS. “Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sikap wait and see investor menjelang rilis sejumlah data ekonomi domestik penting pada pekan ini, seperti inflasi Juli, neraca perdagangan, dan pertumbuhan PDB kuartal II-2026, yang diperkirakan akan memberikan arah bagi prospek kebijakan moneter dan perekonomian Indonesia,” ujar Liza dalam riset yang diterima Kontan, Senin (3/8/2026).
Yield US Treasury Tertinggi Sejak Januari 2025, Investor Tunggu Data Ekonomi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan pasar obligasi domestik masih dibayangi tekanan dari kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) serta tingginya suku bunga global. Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun bertahan di level 7,34% per 31 Juli 2026. Posisi tersebut naik 18 basis poin (bps) secara bulanan MoM dan meningkat 76 bps dibandingkan periode yang sama tahun lalu (YoY), mencerminkan masih tingginya tingkat suku bunga. Dari sisi aktivitas perdagangan, pasar obligasi mengalami perlambatan menjelang akhir pekan. Volume transaksi obligasi korporasi turun dari Rp 9,71 triliun pada 30 Juli menjadi Rp 8,85 triliun pada 31 Juli. Meski begitu, secara kumulatif sepanjang tahun ini, volume perdagangan obligasi korporasi masih mencapai Rp 843,3 triliun. Baca Juga: Merdeka Gold Resources (EMAS) Produksi 15.594 Ounces Emas pada Kuartal II-2026 Sementara itu, volume perdagangan obligasi pemerintah juga menurun dari Rp 18,24 triliun menjadi Rp 13,48 triliun. Kendati demikian, total volume perdagangan obligasi pemerintah sepanjang tahun telah mencapai Rp 3.550 triliun dan masih mendominasi aktivitas transaksi di pasar surat utang. Di pasar valuta asing, rupiah bergerak stabil di kisaran Rp 18.050 per dolar AS. “Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sikap wait and see investor menjelang rilis sejumlah data ekonomi domestik penting pada pekan ini, seperti inflasi Juli, neraca perdagangan, dan pertumbuhan PDB kuartal II-2026, yang diperkirakan akan memberikan arah bagi prospek kebijakan moneter dan perekonomian Indonesia,” ujar Liza dalam riset yang diterima Kontan, Senin (3/8/2026).