Yield US Treasury Terus Melonjak, Investor Asing Mulai Wait And See di Pasar SUN



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar Surat berharga Negara (SBN) diperkirakan masih akan tertekan seiring dengan tren kenaikan tingkat imbal hasil US Treasury sejak awal Maret 2022. Tekanan harga menyebabkan permintaan yield pada lelang surat utang negara (SUN) tinggi

Merujuk data Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR), pemerintah hanya menyerap Rp 11,05 triliun pada lelang SUN pekan lalu. Angka ini berada di bawah target indikatif Rp Rp 20 triliun.

Yield US Treasury melonjak ke level tertingginya dalam lebih dari 3 tahun terakhir. Selasa (19/4) pukul 19.10 WIB, yield US Treasury tenor 10 tahun berada di 2,88%. Investor masih melihat inflasi yang kembali meninggi. 


Baca Juga: Sepi, Penawaran Masuk pada Lelang Sukuk Negara Hanya Rp 7,54 Triliun

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengungkapkan US Treasury bisa terus naik dan mengarah ke 3%. "The Fed sudah cukup jelas bahwa mereka akan agresif menaikkan suku bunga tahun ini sebanyak tiga kali di semester ini, karena memang untuk menjaga kondisi ekonomi mereka dengan cara menaikkan suku bunga," ucap Ario kepada Kontan.co.id, Selasa (19/4). 

Kenaikan suku bunga acuan akan memancing suku bunga turut naik. Sehingga membuat likuiditas SUN akan turun karena investor akan sangat berhati-hati untuk masuk ke pasar. 

Ario memperkirakan, kenaikan suku bunga acuan Fed Funds Rate dan yield US Treasury dapat turut mengerek yield SUN tenor 10 tahun menyentuh 7%. Investor akan wait and see untuk masuk ke pasar. Yield SUN tenor 10 tahun seri FR0091 hari ini berada di 6,96%. 

"Kalau suku bunga di Amerika Serikat naik akan membuat dana global terutama pada emerging markets untuk masuk ke sana sehingga dana asing tentu akan keluar membuat likuiditas SBN akan turun dan ini akhirnya memicu pelemahan," ujar Ario. 

Baca Juga: Dibuka Menguat Tipis, Simak Sentimen yang Mempangaruhi Pergerakan Rupiah Hari Ini

Senior Economist Samuel Sekuritas Fikri C. Permana memperkirakan SUN masih akan tertekan. Yield SUN tenor 10 tahun sudah mendekati 7% dan ini juga didorong oleh Fed Rate yang masih akan naik. 

"Bahkan tadi malam kalau dilihat dari Jim Bullard kemungkinan bisa menaikkan ke 3,5% artinya sampai enam kali pertemuan mendatang akan terdapat kenaikan sebesar 50 basis poin (BP) masing-masing, mungkin ini menjadi pendorong kenaikan US Treasury dan yield SUN," ucap Fikri. 

Dia mengatakan dana asing SBN sudah mulai keluar sejak Oktober 2021 karena ekspetasi kenaikan pada yield US Treasury dan yield SUN. Tapi, dia menambahkan bahwa capital outflow tidak akan sebesar tahun 2008 dan 2018. 

Ario mengatakan pelemahan harga SUN akan terus berlanjut setidaknya hingga akhir semester pertama. The Fed akan menaikkan suku bunga secara agresif sehingga membuat likuiditas turun. Setelah stabil, pasar akan pulih kembali.

Baca Juga: Hingga Februari, Aset Investasi Industri Asuransi Jiwa Tumbuh 5,9%

Fikri menambahkan, setelah Fed Funds Rate stabil, yield US Treasury akan ikut stabil. Dia melihat, saat ini kenaikan yield terutama terjadi pada tenor panjang di atas 10 tahun. Yield US Treasury tenor 3 tahun hingga lima tahun mulai menunjukkan penurunan. 

Ario mengatakan, Bank Indonesia (BI) perlu mengikuti perubahan suku bunga The Fed. "Kita sudah cukup lama dengan suku bunga rendah, BI harus menjaga agar dana asing tidak banyak yang keluar akibat perubahan suku bunga," ucap dia. 

Sementara Fikri mengatakan BI akan masih mempertahankan suku bunga. Bank sentral baru akan menaikkan suku bunga pada bulan depan atau Juni mendatang. "Karena tekanan pada capital outflow pada SBN masih tidak terlalu besar dan masih terlihat pendapatan dari saham dan rupiah masih bergerak stabil, jadi saat inflasi masih terlihat stabil sehingga tidak ada urgensi bagi BI untuk menaikkan suku bunga," ujar Fikri. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati