Yield US Treasury Turun, Harga Minyak Anjlok dan Investor Cermati Buyback



KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor panjang turun pada perdagangan Selasa (25/8/2026), seiring harga minyak mentah yang merosot ke level terendah dalam sepekan.

Investor juga terus mencermati rencana Menteri Keuangan AS Scott Bessent untuk memperbesar pembelian kembali (buyback) obligasi pemerintah AS.

Harga minyak turun lebih dari 3% setelah pasar menilai sanksi terbaru AS terhadap Iran memiliki risiko lebih kecil terhadap pasokan minyak dibandingkan eskalasi militer.


Baca Juga: China Borong Emas Lagi, Impor Juli Melonjak 28%, Ada Apa?

“Masih ada retorika dan eskalasi yang sangat panas, tetapi harga minyak masih diperdagangkan dalam rentang yang sempit mengingat semua yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir,” ujar Will Compernolle, Macro Strategist FHN Financial dilansir dari Reuters.

Menurutnya, pelaku pasar energi mungkin mulai terbiasa dengan perubahan dinamika konflik sehingga respons terhadap perkembangan geopolitik menjadi lebih terbatas.

Iran sebelumnya berjanji akan merespons perluasan sanksi AS yang bertujuan mengisolasi perekonomiannya. Teheran juga menyatakan optimistis negara-negara mitra dagangnya akan menolak tekanan Washington.

Perdebatan Buyback Treasury

Di pasar obligasi, investor masih memperdebatkan rencana Departemen Keuangan AS untuk meningkatkan nilai buyback obligasi menjadi lebih dari dua kali lipat.

Rencana tersebut muncul setelah Bessent menilai kenaikan yield obligasi tenor panjang AS belakangan ini sudah terlalu tinggi.

Namun, Compernolle menilai belum terdapat bukti kuat bahwa obligasi Treasury saat ini berada dalam kondisi oversold.

Baca Juga: Tottenham Hotspur Rekrut Savinho dari Manchester City, Belanja Tembus £322 Juta

“Fundamental yang mendukung yield pada level saat ini masih sangat sedikit berubah. Karena itu, saya tidak berpikir Departemen Keuangan AS dapat melawan kondisi tersebut,” katanya.

Investor miliarder Stanley Druckenmiller juga mengkritik kebijakan tersebut. Menurutnya, langkah pemerintah AS memperbesar buyback berisiko mengikis kredibilitas pasar Treasury sekaligus menyia-nyiakan momentum untuk melakukan reformasi utang yang lebih berarti.

Pasar Tunggu Data Inflasi AS

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk Juli yang akan dirilis Rabu (26/8).

Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah tekanan harga di AS mulai mereda dan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Setelah itu, fokus pasar akan beralih ke pidato Ketua The Fed Kevin Warsh pada simposium Jackson Hole, Jumat (28/8).

Investor akan mencermati apakah Warsh memberikan sinyal bahwa bank sentral AS cenderung mengambil sikap lebih hawkish terhadap inflasi.

Di pasar obligasi, yield surat utang AS tenor dua tahun yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga The Fed turun 3,22 basis poin menjadi 4,204%.

Baca Juga: Keyakinan Pebisnis Jerman Menguat Seiring Pemulihan Aktivitas Ekonomi

Sementara itu, yield Treasury tenor 10 tahun turun 4,16 basis poin menjadi 4,662%.

Selisih yield antara obligasi tenor dua tahun dan 10 tahun menyempit menjadi 45 basis poin.

Departemen Keuangan AS juga akan melelang surat utang senilai total US$183 miliar sepanjang pekan ini.

Pada Selasa, pemerintah AS menawarkan US$69 miliar obligasi tenor dua tahun, disusul US$70 miliar obligasi tenor lima tahun pada Rabu dan US$44 miliar obligasi tenor tujuh tahun pada Kamis.