KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) turun pada perdagangan Selasa (2/6/2026). Data pasar tenaga kerja menunjukkan lonjakan jumlah lowongan pekerjaan dan harga minyak bergerak relatif stabil usai mengalami kenaikan tajam sehari sebelumnya.
Baca Juga: Jensen Huang Bikin Heboh Wall Street, Saham Marvell Langsung Melejit 25% Pelaku pasar juga mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Media Iran melaporkan bahwa Teheran sedang meninjau proposal kesepakatan dengan Washington untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran masih terus berlangsung. Pernyataan tersebut membantu meredakan kekhawatiran pasar terkait pasokan energi global setelah sehari sebelumnya muncul laporan bahwa tim negosiator Iran menghentikan pertukaran pesan dengan AS melalui mediator. Harga minyak mentah AS (WTI) naik tipis 0,12% menjadi US$92,27 per barel, sementara minyak Brent menguat 0,31% ke level US$95,27 per barel.
Baca Juga: Pejabat The Fed Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga Jika Inflasi Terus Menguat Lowongan Kerja AS Melonjak Penurunan yield Treasury sempat terbatas setelah Departemen Tenaga Kerja AS merilis laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS). Data tersebut menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan melonjak 731.000 posisi menjadi 7,618 juta pada akhir April 2026. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak Mei 2024 dan jauh melampaui perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebesar 6,88 juta lowongan. Chief Economist Annex Wealth Management Brian Jacobsen mengatakan, lonjakan tersebut dapat menjadi sinyal perubahan kondisi pasar tenaga kerja AS. "Apakah kita akhirnya keluar dari fase 'tidak merekrut dan tidak memecat'? Mungkin saja. Lowongan pekerjaan melonjak tajam pada April," ujar Jacobsen. Menurutnya, tingkat pengunduran diri karyawan masih rendah dan pemutusan hubungan kerja (PHK) juga belum meningkat signifikan. Namun, kondisi pasar tenaga kerja mulai menunjukkan perubahan arah. Data JOLTS menjadi laporan pertama dari rangkaian indikator ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pekan ini, sebelum laporan utama nonfarm payrolls pada Jumat (5/6).
Baca Juga: SpaceX Tekan Biaya IPO Raksasa, Bank Investasi Tetap Berpotensi Raup US$ 500 Juta Yield Treasury Turun Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 2,8 basis poin menjadi 4,449%. Yield tersebut telah bergerak turun sejak mencapai level tertinggi dalam 16 bulan terakhir di 4,687% pada 19 Mei lalu, didorong optimisme bahwa kesepakatan damai antara AS dan Iran dapat tercapai. Sementara itu, yield obligasi tenor 30 tahun turun 3 basis poin menjadi 4,961%. Di sisi lain, Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack memperingatkan bahwa bank sentral AS mungkin perlu segera mengambil tindakan jika tekanan inflasi terus meningkat. Hammack menilai, inflasi saat ini masih terlalu tinggi dan menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, sehingga membuka peluang kenaikan suku bunga apabila kondisi tersebut berlanjut.
Baca Juga: Korea Selatan Akan Meningkatkan Impor Minyak Mentah dan LNG dari Kanada Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Menguat Yield Treasury tenor dua tahun yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed turun 1,4 basis poin menjadi 4,037%. Meski demikian, ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga AS telah berubah drastis dalam beberapa bulan terakhir. Pada awal tahun, investor memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sekitar 50 basis poin sepanjang 2026. Kini, pasar justru mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga.
Baca Juga: PBB Peringatkan Dunia Siap Hadapi Risiko Panas Ekstrem akibat El Nino Berdasarkan data CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada pertemuan The Fed bulan Desember kini mencapai sekitar 50%, melonjak dari hanya 9,3% sebulan lalu. Sementara itu, tingkat inflasi yang diperkirakan pasar dalam lima tahun ke depan (5-
year breakeven inflation rate) berada di level 2,549%. Adapun indikator inflasi jangka panjang selama 10 tahun berada di 2,406%, yang menunjukkan investor memperkirakan inflasi AS akan rata-rata berada di kisaran 2,4% per tahun selama satu dekade mendatang.