KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menekankan pengenaan urun biaya program JKN-KIS yang tertuang dalam peraturan menteri kesehatan (Permenkes) 51/2018 jangan dijadikan kedok sebagai upaya BPJS Kesehatan menekan angka defisit. Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan, pengenaan urun biaya ini memang sudah diatur dalam undang-undang sistem jaminan sosial nasional (SJSN) nomor 40 tahun 2004 pasal 22. Dengan demikian, Tulus menilai urun biaya ini tidak melanggar regulasi yang ada. "Tetapi saya menekankan agar jangan sampai urun biaya menjadi kedok untuk menekan defisit di BPJS Kesehatan. Urun biaya bukan untuk itu," kata Tulus di Kantornya, Jumat (25/1).
YLKI: Pengenaan urun biaya JKN-KIS jangan dijadikan kedok untuk menekan defisit
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menekankan pengenaan urun biaya program JKN-KIS yang tertuang dalam peraturan menteri kesehatan (Permenkes) 51/2018 jangan dijadikan kedok sebagai upaya BPJS Kesehatan menekan angka defisit. Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan, pengenaan urun biaya ini memang sudah diatur dalam undang-undang sistem jaminan sosial nasional (SJSN) nomor 40 tahun 2004 pasal 22. Dengan demikian, Tulus menilai urun biaya ini tidak melanggar regulasi yang ada. "Tetapi saya menekankan agar jangan sampai urun biaya menjadi kedok untuk menekan defisit di BPJS Kesehatan. Urun biaya bukan untuk itu," kata Tulus di Kantornya, Jumat (25/1).