KONTAN.CO.ID - Yuan China bergerak di dekat level tertinggi dalam 3,5 tahun terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (21/82026). Mata uang China tersebut berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan kedelapan berturut-turut, didukung pelemahan dolar AS.
Baca Juga: China Siapkan Dukungan Fiskal Tambahan untuk Menopang Pertumbuhan Ekonomi Investor kini mengalihkan perhatian ke simposium Jackson Hole pekan depan untuk mencari sinyal kebijakan terbaru dari Federal Reserve (The Fed) yang berpotensi memengaruhi pasar valuta asing. Mengutip
Reuters, yuan onshore bergerak dalam rentang terbatas pada perdagangan pagi dan terakhir menguat 0,06% menjadi 6,7221 yuan per dolar AS pada pukul 03.29 GMT. Posisi tersebut tidak jauh dari level 6,7203 yuan per dolar AS yang dicapai sehari sebelumnya. Level tersebut merupakan posisi terkuat yuan sejak Februari 2023. Jika yuan mengakhiri sesi perdagangan malam di sekitar level pertengahan hari, mata uang tersebut akan mencatat penguatan sekitar 0,3% sepanjang pekan, sekaligus membukukan kenaikan mingguan kedelapan secara beruntun. Sementara itu, yuan offshore terakhir diperdagangkan di level 6,7224 per dolar AS, menguat sekitar 0,05% dalam perdagangan Asia.
Baca Juga: Rupiah dan Mata Uang Asia Menguat terhadap Dolar AS Jumat (21/8), Won Korea Terkuat Kebijakan PBOC Jadi Perhatian Sebelum pasar dibuka, People's Bank of China (PBOC) menetapkan nilai tengah yuan di 6,7817 per dolar AS. Level tersebut 555 pip lebih lemah dibandingkan estimasi Reuters sebesar 6,7262. Yuan onshore diperbolehkan bergerak dalam kisaran 2% di atas atau di bawah nilai tengah yang ditetapkan PBOC setiap hari. Sejak November 2025, bank sentral China secara konsisten menetapkan nilai tengah yuan lebih lemah dari perkiraan pasar. Pelaku pasar secara luas menilai kebijakan tersebut merupakan upaya pemerintah untuk menahan penguatan yuan yang berlebihan sekaligus menjaga stabilitas pasar. "Hal ini konsisten dengan preferensi terhadap apresiasi yang bertahap, bukan penguatan satu arah," kata Christopher Wong, FX strategist OCBC Bank. Menurut Wong, dinamika dolar AS yang lebih lemah serta konversi pendapatan eksportir masih akan mendukung yuan. Namun, pola penetapan nilai tengah oleh PBOC menunjukkan pembuat kebijakan kemungkinan tidak akan membiarkan yuan menguat terlalu cepat. "Dalam jangka pendek, kami masih melihat ruang bagi yuan untuk menguat, meskipun dengan laju yang terukur," ujarnya.
Baca Juga: Bursa Australia Melemah Jumat (21/8), Saham Teknologi dan Properti Jadi Beban Pasar Tunggu Sinyal The Fed Pelemahan dolar AS turut menjadi katalis bagi penguatan yuan. Dolar AS berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan setelah investor menilai rencana pembelian kembali obligasi Treasury oleh Departemen Keuangan AS hanya menjadi solusi sementara. Langkah tersebut juga memicu kekhawatiran baru mengenai pendekatan pemerintah AS yang semakin aktif dalam mengintervensi pasar.
Pelaku pasar kini menunggu pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pekan depan. Pidato tersebut akan menjadi perhatian investor untuk mendapatkan petunjuk mengenai bagaimana The Fed akan menangani inflasi AS yang masih berada pada level tinggi. Sinyal mengenai arah kebijakan suku bunga AS berpotensi memengaruhi pergerakan dolar dan menentukan apakah penguatan yuan dapat berlanjut dalam beberapa pekan mendatang.
Baca Juga: Dolar AS Tertekan, Investor Ragukan Upaya Departemen Keuangan Redam Imbal Hasil